Pagi ini dengan kesadaran penuh, akhirnya terpaksa harus aku akui sekali lagi,setelah sekian kalinya aku mengelak dan terus mengelak, dan menghindari mengungkapkan perasaan itu... aku menyerah! Pria itu, tak pernah benar-benar hilang dari hatiku. Ya, sekuat tenaga aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa tidak pernah ada apa-apa antara kami berdua, jadi tak perlu bagiku untuk terlalu jatuh pada dirinya berulangkali. Namun, inilah kenyataannya. Dia memang pergi, tapi bukan untuk menghilang. Dia hanya bersembunyi dengan aman di salah satu relung hatiku yang paling dalam, yang terdalam dengan diamnya. Sampai aku pun tak pernah menyadarinya hingga pada suatu saat dia akan keluar dengan sendirinya. Seperti hari ini. Berkali-kali aku terus mengelak dan mengatakan bahwa tidak pernah terjadi sesuatu yang istimewa diantara kami dan tidak akan pernah terjadi apa pun. Seberapa pun besarnya rasa itu dariku kepadanya, selama masalah keyakinan itu tak pernah selesai. Keyakinan akan Tuhan yang menciptakan dan bahwa dirinya juga punya rasa itu.
FH, bila bicara tentang pria ini, tidak ada satu pun rasionalku yang bisa jalan. Apalagi hatiku. Hanya dengan menyebutkan namanya, membuat seluruh kosa-kataku bisa hilang. Apalagi melihat sosoknya hadir di depan mata. Tak ada yang bisa menarikku untuk bisa berkonsentrasi, selain mengikuti seluruh gerak-geriknya. Begitu besar daya magnet yang dia berikan padaku. Sebesar itu pulalah aku berusaha untuk menghindarinya. Dengan beribu kali mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bisa bersatu dengannya. Beribu kali pula aku menyakinkan diriku sendiri untuk berhenti menunggu sesuatu harapan kosong. Tapi sekali lagi, begitu nama itu disebutkan -FH, aku tak akan mampu untuk berpaling.
Itulah kebodohan yang paling hebat yang pernah aku lakukan. Sejak pertemuan pertama kami Agustus 1994 di Image Commnunications, sebuah perusahaan publishing - tempat pertama kali aku bekerja, aku tak pernah bisa melepaskan hati ini untuk orang lain. Aku pernah, bahkan seringkali, mencoba berpaling, melakukannya dengan sepenuh hati, bahkan sampai mempertanyakan maksud Allah mempertemukan dia denganku, namun tak satu pun itu pernah berhasil dengan sukses mengenyahkan 100% nama itu termasuk sosoknya dari dalam hatiku.
Apalagi setelah kejadian 2004, setelah kami berbicara berdua terus-terang. Pada saat itu aku bisa melihat bagaimana kecewanya dan marahnya dia akan perasaanku pada dirinya. Di satu sisi, aku juga bisa melihat bagaimana aku telah kehilangan sahabat terbaikku. Setelah sempat menghilang beberapa waktu, dia datang kembali. Untuk menepati janjinya sebagai seorang sahabat. Sahabat yang siap membantu, yang bisa diandalkan dalam semua situasi. Hal ini yang membuat aku (kembali) tak pernah bisa untuk berpaling darinya. Dia ada disana saat aku kebingungan dan mengulurkan tangan untuk membantu dengan segala ketulusan hati yang aku tahu selalu dia miliki dari dulu.
Kenyataan ini yang membuatku semakin bersedih. Saat sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, aku selalu merindukan dirinya untuk bisa berbagi. Apalagi bila sesuatu kebahagiaan datang, betapa aku ingin mengatakan padanya semuanya bisa terjadi karena dirinya selalu mendampingiku. Namun, kini aku tahu kalau tak akan pernah lagi bisa mengatakannya. FH tidak pernah membalas smsku, panggilan tak terjawabku, pesan-pesan yang aku tinggalkan di Inbox emailnya atau pun di Facebooknya. FH tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Tapi aku tahu persis jawabannya. Ada seseorang yang bertahun-tahun mendampinginya dan sepertinya mereka telah memasuki tahap dimana semuanya akan menjadi lebih pasti. FH akan memasuki tahap baru dalam hidupnya. Aku bisa merasakannya karena dari dulu selalu ada kontak yang tak bisa aku jelaskan antara aku dan dia.
Aku bisa merasakan saat dia sakit, bingung,dan bahagia. FH juga tahu tentang masalah ini, bahkan pernah memintaku untuk memutuskan kontak itu. Aku tak pernah minta dan juga tak tahu bagaimana caranya untuk menghentikan semuanya. Itu terjadi dengan sendirinya. Memang, aku seringkali berusaha mengacuhkan semua kontak itu, tapi tak pernah berhasil. Yang ada, semakin aku berusaha untuk menekannya, semakin kuat kontak itu hadir dalam otakku. Sejauh ini, aku merasa FH baik-baik saja dan ini yang paling menakutkan. FH berada jauh sekali. FH akan pergi. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku bisa merasakan begitu. Padahal saat ini aku butuh sekali FH. Aku perlu datang padanya hanya untuk mengatakan bahwa aku tak akan pernah bisa menghilangkan rasa sayang itu dari diriku. Dan memintanya untuk membiarkan aku menyimpannya dalam hati sampai suatu hari nanti aku benar-benar bisa memiliki rasa sayang dari seseorang yang lain.
Mungkin hal ini terjadi karena peristiwa bersama Efaka. Aku tak dapat menyangkal bahwa penolakan dan perubahan sikapnya padaku membuat aku kembali melihat bagaimana FH dengan segala kebesaran hatinya membiarkan persahabatan diantara kami tetap berjalan seperti biasa. Sekali lagi, seperti kata Wendy... lukisan besar itu telah menutup lukisan-lukisan kecil lainnya yang berada dibelakangnya. Seberapa pun bagusnya lukisan kecil itu. Ah, terus-terang aku tak tahu apa yang harus aku lakukan lagi.
FH, pria ini, manusia kreatif yang penuh kerendahatian, ketulusan, dan perhatian ini tak akan pernah bisa membuatku menjadi manusia yang rasional. Pria yang selalu aku coba untuk lupakan sekuat tenaga. Dia yang telah membuatku menjadi begitu bodoh sehingga tak lagi bisa berpikir bahwa masih ada pria lain yang lebih baik di luar sana. Manusia yang selalu menarikku kembali pada kebodohan yang sama selama belasan tahun. Walau pun aku begitu ingin bisa terlepas dari segala kebodohan itu.
Ahhh... aku tak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan. Aku sungguh tak berdaya. Aku sangat letih dengan permainan hati ini. Aku hanya ingin duduk dengan tenang menunggu sampai kapan ada hati lain yang akan datang menjemputku, tanpa harus dipenuhi dengan perasaan pada dirinya.
FH, di mana pun engkau berada saat ini...
Aku akan berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik untukmu, memberikanmu kembali kesehatan seperti semua, dan melindungimu selalu.
Antara aku dan dirimu memang tak pernah terjadi sesuatu apa pun, kecuali sebuah persahabatan yang selamanya akan menjadi harta berharga buatku.
Tak ada lagi ungkapan yang bisa aku katakan padamu selain You're my bestest friend that I've ever have. I wish you're here now, just to hear how sad I was when that man turn me down. (Huahahahahaha... I know that my wish would never be come true.)
Senin, 01 Desember 2008
Kamis, 27 November 2008
Tidak Cukup Baik
Ketika aku terlibat kembali perasaan jatuh cinta pada seseorang dan akhirnya ternyata berujung dengan sebuah penolakan telak (hiks!), satu pertanyaan langsung timbul dalam hatiku. Apakah yang menyebabkan laki-laki ini (yang sekali lagi) menolakku? Apakah aku tidak cukup baik untuk dirinyakah? Peristiwa penolakan kali ini memang memberikan banyak sekali pelajaran berharga untukku. Membuat aku menjadi merasa wajib merenungkan kembali semua hal yang sudah terjadi. Apalagi untuk kali ini peristiwa yang sama terjadi lagi. Pertanyaan apakah aku tak cukup baik untuk dirinya, sepertinya layak untuk aku tanyakan pada diriku sendiri.
Seringkali kita sering mendengar pertanyaan bahwa orang baik berhak mendapatkan juga yang terbaik. Demikian juga sebaliknya. Makanya kalau mau mencari jodoh yang soleh, bergaullah di majelis taklim atau sering-sering meramaikan mesjid.
Kalau dipikirkan lagi, pernyataan itu tidak ada yang salah. Sangat betul bahkan menurutku. Setiap perbuatan akan mendapatkan ganjaran atau balasannya sesuai dengan yang telah kita lakukan. Oleh sebab itulah aku berusaha membuat semacam introspeksi kecil karena sepertinya memang ada yang kurang dari diriku.
Jika kita ingin melamar suatu pekerjaan, pasti kita akan berjuang sekuat tenaga untuk membuat Daftar Riwayat Hidup yang sebagus mungkin. Penuh dengan pencapaian yang telah berhasil kita raih. Sedapat mungkin hal-hal yang merugikan akan kita kurangi. Namanya juga sarana untuk menjual kemampuan kita. Untuk membuat orang yang mau mempekerjakan kita menjadi terpesona, terpincut, sampai akhirnya memutuskan untuk menjadikan kita sebagai karyawan. Itu hanya untuk urusan duniawi. Apalagi untuk urusan yang akhirat.
Buat aku, sebuah pernikahan tidak hanya berlangsung di dunia. Hal ini juga berhubungan dengan akhirat, karena nantinya kita akan diminta pertanggungjawaban oleh NYA. Tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah, sebagai istri dan ibu, bahkan sebagai anak. Dalam proses mencari jodoh yang benar secara Islam tidak mengenal adanya pacaran. Hanya ada proses pengenalan melalui ta'aruf. Peristiwa ini ditandai dengan menukar informasi diri pribadi, mungkin seperti Daftar Riwayat Hidup tapi pastinya lebih lengkap lagi.
Aku mencoba membuat Daftar Riwayat Hidup ku versi ini. Belum apa-apa, aku sudah malu sendiri. Malu karena belum apa-apa sudah terlihat jelas mengapa dia memilih wanita itu bukan aku. Latar pendidikan wanita pilihannya adalah Sekolah Tinggi Ilmu Agama, jurusan Tafsir Hadist. Subhanallah... sementara aku??? Lulusan Ilmu Jurnalistik. Tidak ada sedikit pun berhubungan dengan agama. Memang, aku diajarkan untuk membuat berita yang benar dan tidak memihak. Tetapi kebenaran manusia itu sampai di manakah?
Kedua, urusan sholat yang jadi tiang agama. Pastinya wanita tadi sholatnya bagus, dalam artinya tepat waktu, bacaannya baik, sering sholat sunnah, mengerjakan sholat malam. Aku??? Sholat sering kali menjelang malaikat menutup pintu doa, karena sementar lagi adzan berkumandang lagi. Alasannya??? Apalagi kalau bukan banyak kerjaan. Padahal sebetulnya apalah susahnya meninggalkan kerjaan barang 5-10 menit saja. Sholat sunnah kalo lagi ingat... dan biasanya hanya waktu subuh. Apalagi sholat malam. Sudah diniatkan... seringkali niat tinggal niat. Alarm dibunyikan untuk dimatikan lagi. Bagaimana mau bangun kalau mulai tidurnya saja baru jam satu atau dua pagi??? Jelas lah... bangun jam 3 setengah mati.
Itu urusan sholat. Lain lagi masalah mengaji atau membaca Al Qur'an. Pastinya sebagai lulusan ilmu tafsir, wanita ini bisa membaca Al Qur'an dengan baik, lengkap dengan tawujidnya. Dia pasti sering membuka lembar-lembar Al Qur'an, bahkan mungkin bisa memahami artinya dengan baik. Bagaimana dengan aku??? Dari dulu.... niatnya, sekali lagi niatnya... ingin membaca Al Qur'an setiap hari setelah sholat subuh. Dan itu pun tinggal sebatas niat. Aduuuuh.... jadi malu sendiri!
Kemudian, karena kuliahnya mengenai tafsir hadist... pastinya dia jauh lebih paham banyak soal hadist. Sementara aku hanya tahu sedikit dan tetap berusaha mencari hadist mana yang bisa dipercaya kajiannya. Masih banyak bolongnya.
Dan faktor terakhir... yang tak kalah penting. Faktor usia. Dari segi ilmu kedokteran dan biologi, usia wanita pilihannya adalah golongan usia produksi. Artinya lebih besar kemungkinannya wanita ini bisa memberikan keturunanan dibandingkan dengan aku, yang sudah tinggi usianya. Walau pun aku selalu berdoa semoga aku masih bisa diberi kesempatan untuk mempunyai anak, namun aku harus siap dengan kemungkinan terburuk.
Wah, kalau melihat faktor-faktor di atas, sudah selayaknya aku mawas diri. Tak perlu lagi mengajukan pertanyaan apakah aku tak cukup baik untuk dirinya? Rapor ku banyak sekali angka merahnya. Semuanya sudah jelas menjawab pertanyaan ini.
Apa yang aku tuliskan ini bukan berarti aku merendahkan diriku sendiri. Bukan! Justru ini adalah cambuk buat aku. Kalau aku ingin naik kelas dengan baik, masih banyak nilai yang harus aku perbaiki. Dengan sisa usia yang aku tak pernah tahu berapa lama, sepertinya aku harus bekerja ekstra keras. Agar bila nanti waktunya tiba, aku bisa masuk dalam golongan hamba ALLAH yang beruntuhg. Tulisan ini sebenarnya menjadi motivasi buatku untuk tidak sekedar niat, tapi harus segera mewujudkan niat itu dalam tindakan nyata.
ALLAH sayang pada ku! Aku ditegurnya lewat jalan yang lembut. ALLAH hanya mengenalkan aku dengan pria ini. Persahabatan yang baru terjalin singkat ini telah banyak mengajarkan hal-hal positif buatku. Saat keimananku sedang berada pada titik dibawah, ALLAh angkat kembali dengan cara yang sakitnya hanya sebentar. Memang, aku perlu tenaga lebih untuk bisa memahami dan kemudian memaknai segala sakitnya hati ini dengan cara pandang yang positif.
Karena itulah aku hanya bisa bersyukur karena ALLAH telah mempertemukan aku dengan pria ini, seorang efaka.
Saat ini aku hanya bisa berdoa, semoga dia bisa segera mewujudkan keinginannya untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawardah, dan warahmah dengan wanita pilihannya itu. Efaka adalah manusia yang baik dan dia berhak mendapatkan yang terbaik juga. Untukku sendiri???? Aku percaya ALLAH juga telah menyiapkan yang terbaik juga.
Ayo Nita... kamu pasti bisa mewujudkan semua niat baik itu agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat.
You're strong, tough, happy, and healthy!!!! Keep fighting and trying harder!!!
Catatan kecil sebagai terima kasihku untuk seorang efaka, karena senantiasa mengingatkanku untuk kembali kepadaNYA.
May GOD bless u.
Seringkali kita sering mendengar pertanyaan bahwa orang baik berhak mendapatkan juga yang terbaik. Demikian juga sebaliknya. Makanya kalau mau mencari jodoh yang soleh, bergaullah di majelis taklim atau sering-sering meramaikan mesjid.
Kalau dipikirkan lagi, pernyataan itu tidak ada yang salah. Sangat betul bahkan menurutku. Setiap perbuatan akan mendapatkan ganjaran atau balasannya sesuai dengan yang telah kita lakukan. Oleh sebab itulah aku berusaha membuat semacam introspeksi kecil karena sepertinya memang ada yang kurang dari diriku.
Jika kita ingin melamar suatu pekerjaan, pasti kita akan berjuang sekuat tenaga untuk membuat Daftar Riwayat Hidup yang sebagus mungkin. Penuh dengan pencapaian yang telah berhasil kita raih. Sedapat mungkin hal-hal yang merugikan akan kita kurangi. Namanya juga sarana untuk menjual kemampuan kita. Untuk membuat orang yang mau mempekerjakan kita menjadi terpesona, terpincut, sampai akhirnya memutuskan untuk menjadikan kita sebagai karyawan. Itu hanya untuk urusan duniawi. Apalagi untuk urusan yang akhirat.
Buat aku, sebuah pernikahan tidak hanya berlangsung di dunia. Hal ini juga berhubungan dengan akhirat, karena nantinya kita akan diminta pertanggungjawaban oleh NYA. Tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah, sebagai istri dan ibu, bahkan sebagai anak. Dalam proses mencari jodoh yang benar secara Islam tidak mengenal adanya pacaran. Hanya ada proses pengenalan melalui ta'aruf. Peristiwa ini ditandai dengan menukar informasi diri pribadi, mungkin seperti Daftar Riwayat Hidup tapi pastinya lebih lengkap lagi.
Aku mencoba membuat Daftar Riwayat Hidup ku versi ini. Belum apa-apa, aku sudah malu sendiri. Malu karena belum apa-apa sudah terlihat jelas mengapa dia memilih wanita itu bukan aku. Latar pendidikan wanita pilihannya adalah Sekolah Tinggi Ilmu Agama, jurusan Tafsir Hadist. Subhanallah... sementara aku??? Lulusan Ilmu Jurnalistik. Tidak ada sedikit pun berhubungan dengan agama. Memang, aku diajarkan untuk membuat berita yang benar dan tidak memihak. Tetapi kebenaran manusia itu sampai di manakah?
Kedua, urusan sholat yang jadi tiang agama. Pastinya wanita tadi sholatnya bagus, dalam artinya tepat waktu, bacaannya baik, sering sholat sunnah, mengerjakan sholat malam. Aku??? Sholat sering kali menjelang malaikat menutup pintu doa, karena sementar lagi adzan berkumandang lagi. Alasannya??? Apalagi kalau bukan banyak kerjaan. Padahal sebetulnya apalah susahnya meninggalkan kerjaan barang 5-10 menit saja. Sholat sunnah kalo lagi ingat... dan biasanya hanya waktu subuh. Apalagi sholat malam. Sudah diniatkan... seringkali niat tinggal niat. Alarm dibunyikan untuk dimatikan lagi. Bagaimana mau bangun kalau mulai tidurnya saja baru jam satu atau dua pagi??? Jelas lah... bangun jam 3 setengah mati.
Itu urusan sholat. Lain lagi masalah mengaji atau membaca Al Qur'an. Pastinya sebagai lulusan ilmu tafsir, wanita ini bisa membaca Al Qur'an dengan baik, lengkap dengan tawujidnya. Dia pasti sering membuka lembar-lembar Al Qur'an, bahkan mungkin bisa memahami artinya dengan baik. Bagaimana dengan aku??? Dari dulu.... niatnya, sekali lagi niatnya... ingin membaca Al Qur'an setiap hari setelah sholat subuh. Dan itu pun tinggal sebatas niat. Aduuuuh.... jadi malu sendiri!
Kemudian, karena kuliahnya mengenai tafsir hadist... pastinya dia jauh lebih paham banyak soal hadist. Sementara aku hanya tahu sedikit dan tetap berusaha mencari hadist mana yang bisa dipercaya kajiannya. Masih banyak bolongnya.
Dan faktor terakhir... yang tak kalah penting. Faktor usia. Dari segi ilmu kedokteran dan biologi, usia wanita pilihannya adalah golongan usia produksi. Artinya lebih besar kemungkinannya wanita ini bisa memberikan keturunanan dibandingkan dengan aku, yang sudah tinggi usianya. Walau pun aku selalu berdoa semoga aku masih bisa diberi kesempatan untuk mempunyai anak, namun aku harus siap dengan kemungkinan terburuk.
Wah, kalau melihat faktor-faktor di atas, sudah selayaknya aku mawas diri. Tak perlu lagi mengajukan pertanyaan apakah aku tak cukup baik untuk dirinya? Rapor ku banyak sekali angka merahnya. Semuanya sudah jelas menjawab pertanyaan ini.
Apa yang aku tuliskan ini bukan berarti aku merendahkan diriku sendiri. Bukan! Justru ini adalah cambuk buat aku. Kalau aku ingin naik kelas dengan baik, masih banyak nilai yang harus aku perbaiki. Dengan sisa usia yang aku tak pernah tahu berapa lama, sepertinya aku harus bekerja ekstra keras. Agar bila nanti waktunya tiba, aku bisa masuk dalam golongan hamba ALLAH yang beruntuhg. Tulisan ini sebenarnya menjadi motivasi buatku untuk tidak sekedar niat, tapi harus segera mewujudkan niat itu dalam tindakan nyata.
ALLAH sayang pada ku! Aku ditegurnya lewat jalan yang lembut. ALLAH hanya mengenalkan aku dengan pria ini. Persahabatan yang baru terjalin singkat ini telah banyak mengajarkan hal-hal positif buatku. Saat keimananku sedang berada pada titik dibawah, ALLAh angkat kembali dengan cara yang sakitnya hanya sebentar. Memang, aku perlu tenaga lebih untuk bisa memahami dan kemudian memaknai segala sakitnya hati ini dengan cara pandang yang positif.
Karena itulah aku hanya bisa bersyukur karena ALLAH telah mempertemukan aku dengan pria ini, seorang efaka.
Saat ini aku hanya bisa berdoa, semoga dia bisa segera mewujudkan keinginannya untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawardah, dan warahmah dengan wanita pilihannya itu. Efaka adalah manusia yang baik dan dia berhak mendapatkan yang terbaik juga. Untukku sendiri???? Aku percaya ALLAH juga telah menyiapkan yang terbaik juga.
Ayo Nita... kamu pasti bisa mewujudkan semua niat baik itu agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat.
You're strong, tough, happy, and healthy!!!! Keep fighting and trying harder!!!
Catatan kecil sebagai terima kasihku untuk seorang efaka, karena senantiasa mengingatkanku untuk kembali kepadaNYA.
May GOD bless u.
Rabu, 26 November 2008
Selalu Ada Pilihan
Dalam hidup selalu ada pilihan. Ada hitam, putih, bahkan abu-abu. Ada lurus, belok, atau putar balik. Ada pria, wanita, bahkan yang masih bingung akan memilih yang mana. Ada yang memilih untuk hidup dengan jalan yang benar walau harus menderita, ada yang memilih kaya dengan jalan yang salah, atau malah tidak tahu apakah jalan yang dipilih salah atau benar. Intinya kita manusia selalu dihadapkan pada suatu pilihan. Masalah apakah pilihan kita itu benar atau tidak, sekali lagi tergantung cara kita berpikir dan objektif hidup kita.
Dua minggu terakhir, aku dihadapkan pada dua pilihan sulit. Bertahan atau pergi. Bertahan dalam segala hal. Bertahan terhadap pilihan untuk tetap kerja kantoran dan berhadapan dengan kemacetan parah setiap hari atau mulai bekerja dari rumah. Bertahan untuk tetap di Jakarta atau lebih asyik dengan tantangan baru di bidang baru di kampung halaman (hmm... pulang ke Bangka???!!!).
Hari ini ada pilihan baru lagi... memulai tahun baru dengan hati yang baru bersih dari pria berinisial FH dan FAH atau mencoba keberuntungan baru di negeri baru. Negeri yang sejak dulu ingin aku kunjungi dan tinggal di sana. Kalau pilihan terakhir yang aku pilih... itu artinya aku harus ninggalin ibu, satu-satunya orang tua yang masih aku miliki. Menitipkan Ibu dalam penjagaan aak, kakakku satu-satunya yang juga udah cukup repot dengan keluarganya.
Tapi kalau aku memilih tinggal, itu artinya aku harus berhadapan dengan manusia-manusia yang setiap hari akan mengajukan pertanyaan yang sama soal status pribadiku. Yang pastinya bikin aku tambah bingung.
Ah, selalu ada pilihan dalam hidup ... yang membuat kita manusia berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain.
Kita diberi akal pikiran untuk bisa membuat pilihan yang sekali lagi... bukan hal yang mudah.
Barangkali cara termudah adalah membiarkan Allah menuntun kita melakukan pilihan melalui bisikan hati, insting, atau apa lah itu namanya. Namun sekali lagi, diperlukan kepekaan yang tinggi untuk mengartikan bisikan hati itu. Hmmm.... waktu terus berjalan... mampukah aku memilih sebelum tahun berganti???
Dua minggu terakhir, aku dihadapkan pada dua pilihan sulit. Bertahan atau pergi. Bertahan dalam segala hal. Bertahan terhadap pilihan untuk tetap kerja kantoran dan berhadapan dengan kemacetan parah setiap hari atau mulai bekerja dari rumah. Bertahan untuk tetap di Jakarta atau lebih asyik dengan tantangan baru di bidang baru di kampung halaman (hmm... pulang ke Bangka???!!!).
Hari ini ada pilihan baru lagi... memulai tahun baru dengan hati yang baru bersih dari pria berinisial FH dan FAH atau mencoba keberuntungan baru di negeri baru. Negeri yang sejak dulu ingin aku kunjungi dan tinggal di sana. Kalau pilihan terakhir yang aku pilih... itu artinya aku harus ninggalin ibu, satu-satunya orang tua yang masih aku miliki. Menitipkan Ibu dalam penjagaan aak, kakakku satu-satunya yang juga udah cukup repot dengan keluarganya.
Tapi kalau aku memilih tinggal, itu artinya aku harus berhadapan dengan manusia-manusia yang setiap hari akan mengajukan pertanyaan yang sama soal status pribadiku. Yang pastinya bikin aku tambah bingung.
Ah, selalu ada pilihan dalam hidup ... yang membuat kita manusia berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain.
Kita diberi akal pikiran untuk bisa membuat pilihan yang sekali lagi... bukan hal yang mudah.
Barangkali cara termudah adalah membiarkan Allah menuntun kita melakukan pilihan melalui bisikan hati, insting, atau apa lah itu namanya. Namun sekali lagi, diperlukan kepekaan yang tinggi untuk mengartikan bisikan hati itu. Hmmm.... waktu terus berjalan... mampukah aku memilih sebelum tahun berganti???
Senin, 17 November 2008
Needs Big Hug
Aku lagi butuh dukungan moral dari orang-orang terdekat. Terutama bahu yang lapang buat aku bisa mencurahkan air mataku tanpa ada orang yang bisa melihat. Butuh orang yang bisa mendengar tanpa perlu berkomentar yang tidak penting. Aku butuh semuanya untuk sebuah keputusan besar yang sudah aku ambil dan sebuah keputusan besar lainnya yang mungkin akan mengubah hidup aku dan orang-orang terdekat di sekelilingku.
Dari minggu lalu, aku maju mundur dengan keputusan ini dan tadi malam satu keputusan telah terjadi. Dengan segala konsekuensinya, aku terima walau pun hari ini aku bekerja dengan rasa seperti ada sebilah pisau tertancap di dada.
I'm bleeding but that's ok. It'll heal as time goes by eventhough I don't know how long it would take.Doa gua semoga ini bisa secepatnya berlalu.
Dan untuk keputusan besar berikutnya, terpaksa aku tunda hingga semester ini berlalu. Karena aku masih punya tanggung jawab moral terhadap para mahasiswa ini. Dan untuk keputusan terakhir inilah aku butuh dukungan yang luar biasa dari keluarga dan semua orang yang dekat secara batin mau pun fisik selalu ada di sampingku, yaitu para sahabat dekatku.
Permohonan aku cuma satu...
Ya ALLAH... aku capek, aku udah gak sanggup...
Maafkan aku yang ALLAH kalo aku akhirnya harus menyerah.
Aku tahu ALLAH tidak suka orang yang gampang menyerah...
tapi kali ini aku benar-benar sujud untuk minta ampun karena aku udah gak sanggup.
Izinkan aku untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah ku perbuat ya, ALLAH...
dan setelah itu izinkan aku untuk pergi atau pun pulang.
Saat ini aku hanya ingin berada dalam pelukan yang bisa menentramkan aku bahwa everything will be alright. It's just a part of tough journey that I have to pass it to a new better life.
Dari minggu lalu, aku maju mundur dengan keputusan ini dan tadi malam satu keputusan telah terjadi. Dengan segala konsekuensinya, aku terima walau pun hari ini aku bekerja dengan rasa seperti ada sebilah pisau tertancap di dada.
I'm bleeding but that's ok. It'll heal as time goes by eventhough I don't know how long it would take.Doa gua semoga ini bisa secepatnya berlalu.
Dan untuk keputusan besar berikutnya, terpaksa aku tunda hingga semester ini berlalu. Karena aku masih punya tanggung jawab moral terhadap para mahasiswa ini. Dan untuk keputusan terakhir inilah aku butuh dukungan yang luar biasa dari keluarga dan semua orang yang dekat secara batin mau pun fisik selalu ada di sampingku, yaitu para sahabat dekatku.
Permohonan aku cuma satu...
Ya ALLAH... aku capek, aku udah gak sanggup...
Maafkan aku yang ALLAH kalo aku akhirnya harus menyerah.
Aku tahu ALLAH tidak suka orang yang gampang menyerah...
tapi kali ini aku benar-benar sujud untuk minta ampun karena aku udah gak sanggup.
Izinkan aku untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah ku perbuat ya, ALLAH...
dan setelah itu izinkan aku untuk pergi atau pun pulang.
Saat ini aku hanya ingin berada dalam pelukan yang bisa menentramkan aku bahwa everything will be alright. It's just a part of tough journey that I have to pass it to a new better life.
Selasa, 11 November 2008
IBU
Ada hal yang menggelitik terjadi pada dirimu hari ini. Ditengah kesibukan membuat copy untuk iklan, aku mendengarkan lagu sebagai penggugah semangat sekaligus mencari sumber inspirasi kosa-kata. Salah satu lagu yang aku dengarkan adalah album Bunda dari AFI Junior. Bukan album baru, tapi baru aku temukan lagi setelah sekian lama tersimpan rapi di salah satu USB-ku. Album itu adalah tribut untuk Ibu dari berbagai negara dan bahasa.
Ibu - ada berbagai panggilan sayang serupa, seperti: bunda, mak, inang, mama, mommy, ummy, dan masih banyak lagi. Namun intinya itu adalah panggilan untuk wanita yang sudah bersuami atau panggilan takzim kepada wanita (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Yang jelas, buat aku Mak begitu aku memanggilnya adalah seorang wanita yang sangat aku cintai dan hormati, karena dialah aku bisa seperti sekarang ini.
Barangkali kita (mungkin lebih tepatnya aku) seringkali melupakan bagaimana besarnya cinta, perjuangan, dan pengorbanan Ibu terhadap anak-anaknya. Itulah sebabnya saat aku mendengarkan album itu rasanya aku ingin segera pulang untuk bisa memeluk, mencium, dan membisikkan kalimat bagaimana aku sangat menyayangi Mak. Keberadaan Mak terutama setelah meninggalnya Ayah merupakan salah satu alasan aku untuk bisa terus bertahan dan berjuang menghadapi segala rintangan hidup. Karena aku juga ingin bisa menjadi anak kebanggaan Mak, bukan hanya Aak yang sudah sangat sering dipuji Mak.
Terus-terang hubunganku dengan Mak tidak terlalu dekat. Aku lebih dekat dengan Ayah. Sepertinya Ayah lebih banyak bisa memahami diriku daripada Mak. Tapi Mak dengan naluri seorang ibunya mampu memberikan kehangatan, kasih sayang, dan teladan yang luar biasa untuk ku, terutama bila nantinya aku berkeluarga. Mak telah melakukan apa pun yang dia bisa untuk anak-anaknya dan aku yakin Mak akan terus melakukan itu kalau perlu hingga napas terakhirnya.
Apa yang tidak Mak berikan untukku? Di setiap langkahku ada doa Mak yang selalu menyertai. Mak memang tak pernah banyak bicara, tapi dari sorot matanya aku tahu walau pun tak setuju, Mak tetap akan selalu berdoa agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Aak dan aku bisa bersekolah tinggi, terpisah dari Ayah dan Mak dari SMP bukan karena mereka tak sayang. Namun Mak ingin kami sebagai anak-anak perempuannya suatu hari nanti bisa mandiri ketika keadaan memaksa kami untuk menjadi kepala keluarga. Mak dengan segala kesedihan dan kepahitan yang dialaminya selama menjalani kehidupan rumah tangga, mampu menerima semua kekurangan pasangannya dan menyimpannya dengan rapi. Hanya karena tak ingin anak-anaknya kehilangan respek pada Ayahnya.
Berapa pun umur aku dan Aak, buat Mak kami tetap adalah anak-anaknya yang selalu dilimpahkan dengan perhatian, yang kadang-kadang membuat kami menjadi jengah karena merasa terlalu dilayani. Mak akan bangun pagi hari memastikan aku pergi kerja dengan perbekalan yang cukup. Hal yang sama Mak lakukan saat aku masih SD atau SMP. Padahal aku sudah berkali-kali mengatakan pada Mak untuk tak usah repot, karena aku bisa menyiapkannya sendiri kalau memang ingin membawa sesuatu dari rumah. Tapi Mak tetap Mak. Semuanya tetap dia lakukan.
Mak pula lah yang memberikan aku kesempatan untuk pergi haji. Tak akan pernah bisa hilang dari ingatanku hari ini. Waktu itu kami sekeluarga sedang makan siang dalam rangka memperingati hari ulang tahunku. Kebetulan Makcu, adik Mak dari Bandung datang ke Jakarta. Makcu dan Om rencananya tahun depan akan berangkat haji. Kedatangan mereka ke Jakarta juga dalam rangka untuk mengurus segala persiapan awal. Tiba-tiba Mak memberikan penawaran yang membuatku merasa sangat kecil. Mak memberikan tawaran untuk ku pergi haji bersama Makcu dan suaminya dengan uang depositonya. Bayangkan! Aku saat itu sudah bekerja bertahun-tahun tapi tak pernah bisa menabung sebanyak itu. Betapa malunya aku! Seharusnya aku sebagai anak yang menghajikan orang tuanya, sekarang keadaan malah berbalik. Alasan Mak sederhana, mumpung masih ada mahram untuk pergi. Beribu kali Alhamdulillah aku ucapkan. Mak sekali lagi mengejutkan aku dalam kediamannya.
Itulah sebabnya aku menjadi sedih sekali ketika Mak mulai mengungkit-ungkit lagi masalah status kesendirianku. Betapa aku ingin mengabulkan keinginan Mak untuk bisa melihat aku menikah sebelum dia pergi. Namun, aku tak punya kuasa karena semuanya ada di tangan Yang Di Atas. Aku hanya bisa berharap semoga Mak bisa dan ada di sampingku saat aku menikah nantinya. Rasanya kalau bisa dan boleh saat itu aku mengemis pada ALLAH agar bisa mengabulkan permintaan Mak itu, akan aku lakukan.
Mak dan beribu bahkan berjuta Ibu lainnya di seluruh dunia, pasti akan melakukan hal yang sama untuk anak-anaknya. Dan hebatnya lagi, tak pernah ada pamrih dari mereka minta balas jasa. Bayangkan kalau mereka minta bayaran karena telah mengasuh, membesarkan, dan mendidik kita! Tak akan pernah ada nilai yang cukup untuk menggantikannya. Mereka telah mempertaruhkan nyawa saat melahirkan kita. Tak sedikit dari mereka yang dengan sangat ikhlas melepaskan mimpi-mimpi mereka untuk merawat anak-anaknya. Berapa banyak pengorbanan materi yang mereka singkirkan demi untuk membelikan sepotong baju baru atau bahkan menyekolahkan kita. Berapa panjang malam-malam melelahkan saat harus menjaga anak-anaknya sakit dan terus merengek sepanjang malam. Subhanallah... wanita yang tampaknya lemah itu diciptakan ALLAH penuh dengan kekuatan.
Mak, tak akan pernah cukup rasa terima kasih yang ingin aku sampaikan. Apa yang aku lakukan sekarang untuk bisa menjaga Mak seperti yang dulu Ayah lakukan, tak sebanding dengan semua yang pernah Mak lakukan untuk menjagaku.
Terima kasih, Mak. Aku sayang dan tak akan pernah lupa akan semua cinta, kasih sayang, dan semua yang Mak berikan. Maafkan aku jika hingga hari ini aku belum bisa menjadi anak yang Mak bisa banggakan. Maafkan aku jika selalu merepotkan dan membuat Mak tidak tenang. Semoga suatu hari nanti Mak bisa mengatakan bahwa aku juga adalah kebanggaannya. Maafkan Nita, Mak.
Hanya doa yang bisa ku panjatkan... Semoga ALLAH SWT membalas semua kasih sayang dan cinta Mak kepada kami. Semoga ALLAH memberikan kesempatan bagi Mak untuk bisa melihat aku menikah. Semoga ALLAH tak membiarkan lagi Mak menangis dalam kesedihan yang hanya bisa Mak bagi dengan-NYA. Semoga ALLAH mudahkan segalanya diusia Mak yang sudah cukup tinggi. Amin. Amin. Amin.
Barangkali lagu anak-anak dibawah ini bisa mengingatkan kita kembali pada masa kecil dan kasih sayang Ibu yang tak pernah redup. Marilah kita lebih sering mengatakan cinta kepada Ibu agar mereka tahu betapa besar kasih sayang kita kepada mereka.
Di Matamu Mama
Cipt. AT. Mahmud
Dimatamu mama ada bintang
Gemerlapanbila ku pandang.
Dimatamu mama ada bintang
Yang tak pernah pudar bersinar.
Dimatamu mama ada kasih sayang
Yang slalu bersinar terang.
Dimatamu mama ada kasih sayang
Yang slalu bersinar terang
Ibu - ada berbagai panggilan sayang serupa, seperti: bunda, mak, inang, mama, mommy, ummy, dan masih banyak lagi. Namun intinya itu adalah panggilan untuk wanita yang sudah bersuami atau panggilan takzim kepada wanita (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Yang jelas, buat aku Mak begitu aku memanggilnya adalah seorang wanita yang sangat aku cintai dan hormati, karena dialah aku bisa seperti sekarang ini.
Barangkali kita (mungkin lebih tepatnya aku) seringkali melupakan bagaimana besarnya cinta, perjuangan, dan pengorbanan Ibu terhadap anak-anaknya. Itulah sebabnya saat aku mendengarkan album itu rasanya aku ingin segera pulang untuk bisa memeluk, mencium, dan membisikkan kalimat bagaimana aku sangat menyayangi Mak. Keberadaan Mak terutama setelah meninggalnya Ayah merupakan salah satu alasan aku untuk bisa terus bertahan dan berjuang menghadapi segala rintangan hidup. Karena aku juga ingin bisa menjadi anak kebanggaan Mak, bukan hanya Aak yang sudah sangat sering dipuji Mak.
Terus-terang hubunganku dengan Mak tidak terlalu dekat. Aku lebih dekat dengan Ayah. Sepertinya Ayah lebih banyak bisa memahami diriku daripada Mak. Tapi Mak dengan naluri seorang ibunya mampu memberikan kehangatan, kasih sayang, dan teladan yang luar biasa untuk ku, terutama bila nantinya aku berkeluarga. Mak telah melakukan apa pun yang dia bisa untuk anak-anaknya dan aku yakin Mak akan terus melakukan itu kalau perlu hingga napas terakhirnya.
Apa yang tidak Mak berikan untukku? Di setiap langkahku ada doa Mak yang selalu menyertai. Mak memang tak pernah banyak bicara, tapi dari sorot matanya aku tahu walau pun tak setuju, Mak tetap akan selalu berdoa agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Aak dan aku bisa bersekolah tinggi, terpisah dari Ayah dan Mak dari SMP bukan karena mereka tak sayang. Namun Mak ingin kami sebagai anak-anak perempuannya suatu hari nanti bisa mandiri ketika keadaan memaksa kami untuk menjadi kepala keluarga. Mak dengan segala kesedihan dan kepahitan yang dialaminya selama menjalani kehidupan rumah tangga, mampu menerima semua kekurangan pasangannya dan menyimpannya dengan rapi. Hanya karena tak ingin anak-anaknya kehilangan respek pada Ayahnya.
Berapa pun umur aku dan Aak, buat Mak kami tetap adalah anak-anaknya yang selalu dilimpahkan dengan perhatian, yang kadang-kadang membuat kami menjadi jengah karena merasa terlalu dilayani. Mak akan bangun pagi hari memastikan aku pergi kerja dengan perbekalan yang cukup. Hal yang sama Mak lakukan saat aku masih SD atau SMP. Padahal aku sudah berkali-kali mengatakan pada Mak untuk tak usah repot, karena aku bisa menyiapkannya sendiri kalau memang ingin membawa sesuatu dari rumah. Tapi Mak tetap Mak. Semuanya tetap dia lakukan.
Mak pula lah yang memberikan aku kesempatan untuk pergi haji. Tak akan pernah bisa hilang dari ingatanku hari ini. Waktu itu kami sekeluarga sedang makan siang dalam rangka memperingati hari ulang tahunku. Kebetulan Makcu, adik Mak dari Bandung datang ke Jakarta. Makcu dan Om rencananya tahun depan akan berangkat haji. Kedatangan mereka ke Jakarta juga dalam rangka untuk mengurus segala persiapan awal. Tiba-tiba Mak memberikan penawaran yang membuatku merasa sangat kecil. Mak memberikan tawaran untuk ku pergi haji bersama Makcu dan suaminya dengan uang depositonya. Bayangkan! Aku saat itu sudah bekerja bertahun-tahun tapi tak pernah bisa menabung sebanyak itu. Betapa malunya aku! Seharusnya aku sebagai anak yang menghajikan orang tuanya, sekarang keadaan malah berbalik. Alasan Mak sederhana, mumpung masih ada mahram untuk pergi. Beribu kali Alhamdulillah aku ucapkan. Mak sekali lagi mengejutkan aku dalam kediamannya.
Itulah sebabnya aku menjadi sedih sekali ketika Mak mulai mengungkit-ungkit lagi masalah status kesendirianku. Betapa aku ingin mengabulkan keinginan Mak untuk bisa melihat aku menikah sebelum dia pergi. Namun, aku tak punya kuasa karena semuanya ada di tangan Yang Di Atas. Aku hanya bisa berharap semoga Mak bisa dan ada di sampingku saat aku menikah nantinya. Rasanya kalau bisa dan boleh saat itu aku mengemis pada ALLAH agar bisa mengabulkan permintaan Mak itu, akan aku lakukan.
Mak dan beribu bahkan berjuta Ibu lainnya di seluruh dunia, pasti akan melakukan hal yang sama untuk anak-anaknya. Dan hebatnya lagi, tak pernah ada pamrih dari mereka minta balas jasa. Bayangkan kalau mereka minta bayaran karena telah mengasuh, membesarkan, dan mendidik kita! Tak akan pernah ada nilai yang cukup untuk menggantikannya. Mereka telah mempertaruhkan nyawa saat melahirkan kita. Tak sedikit dari mereka yang dengan sangat ikhlas melepaskan mimpi-mimpi mereka untuk merawat anak-anaknya. Berapa banyak pengorbanan materi yang mereka singkirkan demi untuk membelikan sepotong baju baru atau bahkan menyekolahkan kita. Berapa panjang malam-malam melelahkan saat harus menjaga anak-anaknya sakit dan terus merengek sepanjang malam. Subhanallah... wanita yang tampaknya lemah itu diciptakan ALLAH penuh dengan kekuatan.
Mak, tak akan pernah cukup rasa terima kasih yang ingin aku sampaikan. Apa yang aku lakukan sekarang untuk bisa menjaga Mak seperti yang dulu Ayah lakukan, tak sebanding dengan semua yang pernah Mak lakukan untuk menjagaku.
Terima kasih, Mak. Aku sayang dan tak akan pernah lupa akan semua cinta, kasih sayang, dan semua yang Mak berikan. Maafkan aku jika hingga hari ini aku belum bisa menjadi anak yang Mak bisa banggakan. Maafkan aku jika selalu merepotkan dan membuat Mak tidak tenang. Semoga suatu hari nanti Mak bisa mengatakan bahwa aku juga adalah kebanggaannya. Maafkan Nita, Mak.
Hanya doa yang bisa ku panjatkan... Semoga ALLAH SWT membalas semua kasih sayang dan cinta Mak kepada kami. Semoga ALLAH memberikan kesempatan bagi Mak untuk bisa melihat aku menikah. Semoga ALLAH tak membiarkan lagi Mak menangis dalam kesedihan yang hanya bisa Mak bagi dengan-NYA. Semoga ALLAH mudahkan segalanya diusia Mak yang sudah cukup tinggi. Amin. Amin. Amin.
Barangkali lagu anak-anak dibawah ini bisa mengingatkan kita kembali pada masa kecil dan kasih sayang Ibu yang tak pernah redup. Marilah kita lebih sering mengatakan cinta kepada Ibu agar mereka tahu betapa besar kasih sayang kita kepada mereka.
Di Matamu Mama
Cipt. AT. Mahmud
Dimatamu mama ada bintang
Gemerlapanbila ku pandang.
Dimatamu mama ada bintang
Yang tak pernah pudar bersinar.
Dimatamu mama ada kasih sayang
Yang slalu bersinar terang.
Dimatamu mama ada kasih sayang
Yang slalu bersinar terang
Andai Aku Bisa...
Sepotong bait dari salah satu lagu Chrisye itu tiba-tiba menempel di telingaku. Dengan suaranya yang khas, bait-bait dalam lagu itu seakan menyuarakan suasana hatiku yang saat itu sedang bergejolak tak jelas. Sebenarnya itulah kata yang ingin aku katakan pada seseorang yang dalam hari-hari terakhir ini mampu memberikan warna lain dalam hidupku. Betapa aku ingin bisa menjelaskan kepadanya betapa besarnya rasa yang aku punya untuk dirinya.
Namun sayang, aku tak punya keberanian untuk itu. Yang bisa aku lakukan hanyalah berharap dari jauh, mudah-mudahan dia menyadari bahwa ada rasa itu untuknya.
Hmmm... Andai aku bisa, ingin ku katakan padanya aku tak pernah tahu kapan rasa itu ada. Aku tak pernah tahu bagaimana aku harus menyikapi rasa itu. Aku tak pernah mengerti bagaimana rasa itu bisa bercokol di salah satu relung hatinya. Dan andai aku bisa... aku akan dengan tenang berdiri di hadapanmu dan berkata bagaimana aku menyayangimu setulus hati dan berharap ada rasa yang sama darimu.
Andai aku bisa... sebuah kalimat pengharapan terakhir dariku.
Namun... karena aku tak tahu harus bagaimana, aku harus menyerah.
Menyerah sebelum semuanya terlanjur terasa lebih sakit.
Andai aku bisa... aku ingin melihat dirinya sekali lagi sebelum semuanya benar-benar aku tutup untuk menjadi sebuah masa lalu.
Andai aku bisa...
Senin, 10 November 2008
Jatuh Cinta (Lagi)
Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Mungkin kalau itu kejadian bertahun-tahun yang lalu, aku akan dengan sukacita menerimanya dengan tangan lebar. Tapi jatuh cinta di saat seperti sekarang ini??? Hmmm... sangat susah untuk dikatakan. Bukan berarti aku tidak mensyukurinya namun sesungguhnya perasaaan was-was lah yang ada.
Bagaimana tidak???!!! Bertahun-tahun lamanya, lebih tepatnya mungkin beberapa belas tahun lalu, aku mendapat anugrah cinta yang luar biasa. Aku yang tak pernah percaya pada pandangan pertama, bisa langsung tunduk dan jatuh saat pertama kali melihat pria BGST. Setelah itu... yah, itu tadi. Semua terasa begitu indah, terkadang membingungkan, membuat siang jadi malam dan sebaliknya... dan berjuta perasaan aneh lainnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya penantian kosong itu harus disudahi dengan telak. Tak ada yang terjadi walaupun asa itu tak pernah hilang. Aku harus dihadapkan pada kenyataan bahwa pria BGST itu tak pernah menganggap bahwa rasa itu pernah ada pada dirinya. Malah aku menjadi penghianat, karena dianggap menghianati persahabatan yang ditawarkan olehnya. Hati ini pun terluka parah. Terseok-seok berusaha menjadi kuat kembali dan membiarkan waktu menjadi obat pahit untuk menawarkan luka itu.
Setelah kejadian itu, walau pun akhirnya kita tetap berteman baik, aku menjadi sedikit takut untuk jatuh cinta lagi. Takut jika hati ini salah memilih lagi dan terluka kembali. Namun, sekali lagi, aku hanyalah manusia biasa. Manusia yang tak pernah bisa menghindari apa yang ingin dilakukan oleh Sang Pencipta. Sekali lagi aku jatuh cinta. Sekali lagi jatuh pada orang yang salah. Beruntung hati ini belum terlalu dalam. Jadi tak pernah ada luka yang harus dirawat. Hanya tergores sedikit, tak berdarah. Saat itu aku meng-sms pria BGST. Jawabannya membuatku agak terpana, "... sensor attractionmu perlu direstart kayaknya". Wah, sebegitu parahkah????!!!!
Aku tak terlalu ambil pusing. Hanya saja, setelah itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tak lagi berharap apa-apa. Aku mencoba untuk menerima dengan lapang dada, barangkali ALLAH SWT telah menyiapkan jodoh terbaik untuk ku bukan di dunia, tapi disimpan untuk nanti. Karena ALLAH lebih tahu yang terbaik untuk aku.
Tapi sekali lagi, ALLAH berbaik hati padaku. Disaat aku mulai merasa yakin bisa hidup sendiri, ALLAH hadirkan kembali rasa itu di dada ini. Aku jatuh cinta... lagi. Kali ini... sekali lagi... dengan orang yang salah lagi. Tak bisa aku paparkan, namun perasaanku mengatakan bahwa rasa ini tak bisa diteruskan. Mungkin orangnya tak salah, hanya hati ini yang salah memilih. Karena saat rasa itu masuk ke hati, aku tak pernah menyadarinya. Tiba-tiba saja dia sudah ada disana, duduk dengan manisnya dalam salah satu sudut relung hati.
Ketika aku menyadarinya, rasa takut itu menaklukkan segala rasa keikhlasan yang aku miliki. Karena aku sadar, bila kali ini hati sudah tertanam kembali, tidak akan mudah bagiku untuk bisa berdiri kembali. Seakan-akan tak terjadi apa-apa dan kembali melanjutkan hidup seperti biasa. Malam itu dengan berurai air mata aku memohon pada ALLAH, karena aku tak punya daya apa-apa. Pada malam itu pula, aku menyadari sekali lagi... kembali lagi... aku harus merelakan cinta itu pergi lagi, karena aku belum dianggap berhak untuk menyimpannya dalam hati selamanya. Sekarang, di malam ini aku berusaha untuk menahan agar air mata ini tak lagi turun, untuk bisa dengan ikhlas merelakan rasa itu pergi meninggalkan hati ini... sekali lagi. Aku harus bisa untuk merelakan hati ini kehilangan cinta itu lagi. Dalam diam, hanya doa yang bisa aku panjatkan... agar ALLAH SWT selalu menjaga agar aku bisa tetap berdiri seperti kemarin dan esok.
Dear GOD…
I’ve never thought one day I’d ask YOU this
I’ve never imagined this could exist
I’ve never even dreamt it would happen
But now, I am trapped in it.
I never ask for a lot of money
I am not brave enough to ask for fame
I just ask one simple thing…
Let me be in love again.
I’ve never thought one day I’d ask YOU this
I’ve never imagined this could exist
I’ve never even dreamt it would happen
But now, I am trapped in it.
I never ask for a lot of money
I am not brave enough to ask for fame
I just ask one simple thing…
Let me be in love again.
Let me laugh just to hear his voice
Let me glow just after receiving a romantic poem
Let me be happy just for a rose
Let me fly just to see his silhouette.
Then the blue cloud is turning into grey cloud
The sun is hiding behind the cloudy dark sky
The wind is turning into the storm
The moon won’t show up.
GOD…
If I don’t deserve it
Let this feeling go soon
Don’t let it stay longer
Don’t let it hurt me again.
Dear GOD…
Please let me keep only the good things of love
In my heart forever
Please let me keep the last man’s love
Deep down at the bottom of my heart.
For efaka -the love that I can’t have.
Let it go, GOD… please…
29 October 2008
Jumat, 31 Oktober 2008
Maaf...
Memaafkan itu tak semudah mengucapkannya. Apalagi saat api kemarahan dan kekesalan itu masih setinggi langit. Ada unsur keikhlasan yang dalam di balik kata itu. Bahkan harus ada unsur untuk meninggalkannya pada masa lalu. Agar bisa berjalan dengan tenang di masa kini dan akan datang.
Namun, sekali lagi... apa daya kita manusia yang lemah ini? ALLAH SWT yang Maha Besar dan Maha Memiliki itu pun punya kosa-kata beribu maaf dalam kamus-NYA. Apalagi cuma kita, yang diciptakan-NYA.
Ya, ALLAH...
Bantu aku padamkan api amarah ini
Lepaskan aku dari jeratan angin topan kekesalan ini
Biarkan aku kembali dalam dekapan kedamaian hati.
Tambahkan keikhlasan dalam hatiku
Ikatkan kemurkaan dengan tali nan kuat.
Tambatkan selalu kasih-sayang di jiwa
Yang senantiasa rapuh ini...
Ya, ALLAH...
Biarkan lidahku berkata "Ku maafkan"
dengan keikhlasan yang sedalam samudra
dan seluas langit membentang.
Ya, ALLAH...
Biarkan aku pula untuk bisa berkata "Maafkan aku"
dengan penuh kerendahhatian
serendah kaki berpijak pada tanah.
Catatan kecil untuk efaka.
Terima kasih untuk nyala api kasih sayang itu...
dan maafkan atas ke-egoisan hati ini.
31 Oktober 2008
Rabu, 17 September 2008
When the sun doesn't shine
as bright as usual
When the day doesn't work out
as smooth as the day before
When the sky doesn't bright
as the deep blue ocean as usual
It's a time that I need your love even more
Because it's my only strength to be stronger
than yesterday
For living and facing the day
May 1, 2006
Kasih Tak Terbalas
Saat kau melihat ke lautan luas
Tak kan pernah kau lihat sebuah ujung
Ujung yang memberi harapan
Ujung yang menjanjikan kehidupan
Saat kau berenang di lautan cinta
Tak kan pernah kau berharap itu berujung
Ujung yang kan menorehkan luka
Ujung yang memutuskan harapan
Namun itulah kasih tak terbalas
Tak pernah menjanjikan harapan
Tak pernah menyanyikan lagu cinta
Hanya kedalaman lautan dan kelamnya malam
Jakarta, 16 Januari 2005
Dalam asa yang tak pernah hilang
Tak kan pernah kau lihat sebuah ujung
Ujung yang memberi harapan
Ujung yang menjanjikan kehidupan
Saat kau berenang di lautan cinta
Tak kan pernah kau berharap itu berujung
Ujung yang kan menorehkan luka
Ujung yang memutuskan harapan
Namun itulah kasih tak terbalas
Tak pernah menjanjikan harapan
Tak pernah menyanyikan lagu cinta
Hanya kedalaman lautan dan kelamnya malam
Jakarta, 16 Januari 2005
Dalam asa yang tak pernah hilang
Jumat, 12 September 2008
Selamat Jalan Ayah
Ayah...
Perlahan ku panggil dirimu
Perlahan ku eja panggilan sayang itu
Perlahan ku bisikkan ke telingamu.
Ayah...
Baru kemarin kau duduk bersama kami
Baru tadi pagi ku cium keningmu
Hanya beberapa jam lalu ku peluk dirimu.
Ayah...
Bisakah kau mendengar panggilanku?
Dapatkan kau dengar bisikanku?
Bisakan kau aminkan doaku untukmu?
Ayah...
Ku seka air mata di sudut matamu yang tertutup
Ku cium hidungmu yang terpasang selang oksigen
Ku genggam erat tanganmu yang tergolek lemah.
Ayah...
Walau aku ingin kau selalu ada di sisiku
Walau aku ingin bisa selalu memanggilmu
Walau aku ingin selalu melihat wajah tuamu.
Tapi aku tahu...
Kini saatnya aku harus melepasmu
Merelakanmu untuk kembali pada-Nya
Kembali kepada Yang Menciptakan dan Memiliki jiwa ini.
Selamat jalan, ayah...
Selamanya cinta ayah akan selalu ada di hati ini
Selamanya kasih sayang ayah akan bersemi di jiwa ini
Selamanya kekuatan ayah akan menopangku untuk tegar.
Selamat jalan... ayahku tercinta.
12 September 2001
Untuk mengenang kebersamaan dengan ayahanda H. Mohammad Syarief Tahir
Rabu, 09 Juli 2008
Pesta Pernikahan
Menurut agama Islam, menikah itu adalah ibadah, menggenapkan separuh din, mengikuti sunnah nabi. Karenanya, dalam Islam, menikah harus disegerakan bila sudah mampu dan jangan ditunda-tunda agar tidak menimbulkan fitnah. Begitu yang selalu dipesankan oleh orang-orang tua. Tapi, bagaimana jika jodoh yang ditunggu belum juga muncul?
Minggu lalu, aku ke Bandung dalam rangka pernikahan salah seorang keponakanku. Akhir-akhir ini pernikahan keluarga yang aku datangi bukan lagi tingkatan tante atau sepupu tapi sudah ke tingkat para keponakan. Bahkan beberapa dari mereka sudah memberikan aku cucu.
Dulu, ada beberapa masa dimana aku malas untuk datang ke pernikahan keluarga karena tak tahan dengan berondongan pertanyaan dan pernyataan klise seperti: kapan nyusul, nih? Ditunggu lho undangannya. Jangan terlalu asyik kerja, nanti lupa cari jodoh... dan lain-lain dan sebagainya. Telinga rasanya gatal! Rasanya ingin sekali teriak minta orang-orang itu diam dan bilang kalau itu bukan urusan mereka! Namun, sejalan dengan berlalunya waktu, aku tak pernah peduli dengan komentar itu lagi. Cara paling ampuh hanyalah diam dan berikan senyuman paling manis.
Bagaimana orang-orang itu bisa berkomentar sementara mereka sebetulnya tak pernah tahu apa yang sebetulnya terjadi? Bagaimana mungkin mereka hanya menilai dari kulit luar saja? Beberapa orang saudaraku menilai, ketidakberuntungan aku menemukan jodoh karena terlalu asyik berkarir. Kerja... kerja... dan kerja terus! Dari pagi ketemu pagi lagi! Cari uang terus, sampai lupa cari jodoh! Ada lagi yang menilai, kalau aku terlalu pemilih. Bahkan ibuku sendiri pernah menilai kalau aku terlalu jual mahal. Milih-milih padahal dirinya sendiri modalnya cuma pas-pasan. Maksudnya wajahnya pas, pintarnya pas, hartanya pas... pokoknya serba pas alias rata-rata seperti orang kebanyakan saja. Harusnya dengan modal seperti itu kita jangan terlalu pemilih. Tapi, tahukah mereka sebetulnya apa yang terjadi?
Ada beberapa alasan jika seseorang belum menikah. Aku tidak memakai istilah tidak menikah karena aku yakin, sebenarnya tiap orang punya keinginan untuk menikah, mempunyai pasangan. Mulai dari masih ingin melanjutkan sekolah, membina karir, belum mampu secara keuangan, hingga alasan yang tak bisa dijabarkan, yaitu: belum dipertemukan ALLAH dengan jodoh sebenarnya.
Aku termasuk orang yang percaya akan hal terakhir ini. Aku pernah jatuh cinta -sering bahkan, namun belum pernah ada yang sukses hingga mengajak menikah. Saat ada yang menunjukkan sinyal-sinyal untuk menikah, aku tak pernah merasa ada rasa dengan orang itu. Ketika akhirnya aku merasa yakin dengan seseorang, manusia pilihanku itu malah menjatuhkan cintanya pada orang lain. Mencari kemana-mana sudah, berdoa juga sudah dilakukan, tapi jodoh itu tak kunjung sampai juga. Ada kalanya hati merasa lelah, tapi lebih sering bersemangat jika melihat sosok laki-laki tampan dan beribadah. Namun, kadangkala tak bisa dimungkiri, hati mulai merasa tak lagi peduli.
Kini, aku dengan senang hati datang ke pernikahan keluarga. Buatku ini adalah salah satu ajang untuk menjadi jodoh. Siapa tahu ada laki-laki yang juga sedang mencari calon istri di acara tersebut. Dijodohkan? Boleh-boleh saja, selama keputusan akhir tetap ditangan aku. Sekarang, kalau ada yang bertanya kapan nikah, dengan tenang aku menjawab tolong doanya saja. Kalau ada kenalan, boleh dikenalkan. Siapa tahu bisa berjodoh. Kalau pun tidak, kita bisa menjalin silahturahim dengan lebih banyak orang. Menambah amalan.
Ini bukan alasan atau penghiburan buatku, tapi aku percaya ALLAH punya rencana lain. ALLAH sudah menyediakan jodoh terbaik buatku. Hanya saja waktunya belum tiba. Pesanku untuk semua orang yang belum bertemu dengan jodohnya, tetaplah semangat! Dan buat yang telah berjodoh, peliharalah jodoh kalian dengan sebaik-baiknya. Bersyukurlah karena kalian telah berhasil dipertemukan ALLAH dengan jodoh terbaik selama masih di dunia.
* Untuk seseorang yang pernah bertahun-tahun mengisi hati ini.
Senin, 07 Juli 2008
Tergantung Tujuan
Ada beberapa kejadian di minggu lalu yang membuat aku merasa bahwa penting sekali menentukan tujuan kita melakukan sesuatu. Padahal tadinya aku merasa kita bisa melakukan apa saja tanpa perlu repot-repot menentukan tujuannya dulu. Ternyata hal itu bisa berpengaruh pada akhirannya.
Singkat cerita, seorang rekan dosen menelponku suatu malam. Setelah serius membicarakan masalah soal ujian yang harus diulang, mulailah dia masuk ke dalam sesi curhat colongan. Dia menceritakan apa yang membawa dia menjadi dosen. Sebelum dia mulai bercerita, aku pikir dia mengajar karena uang. Ternyata dugaanku salah. Dia mengajar bukan mengejar honor sebagai pengajar, tapi ada sesuatu yang sangat jauh hubungannya dengan pendidikan. Saat dia bercerita, aku berkomentar dalam hati. Pantas saja dia agak susah untuk diajak bicara soal materi perkuliahan. Tujuannya beda.
Aku ingin menjadi pengajar karena ingin berbagi pengalaman dengan anak-anak yang bercita-cita menjadi orang-orang iklan. Aku ingin mereka bisa menjadi tenaga yang handal bukan sekedar pandai membaca buku. Aku merasakan bagaimana tak bergunanya belajar selama 4-5 tahun, bahkan ada yang sampai 7 tahun di PT tapi tak bisa apa-apa saat terjun di dunia kerja.
Dengan tujuan itu, uang menjadi urusan kedua. Mungkin akan berbeda, jika tujuan utamanya adalah demi uang.
Nah, untuk urusan yang terakhir ini pulalah aku sekarang bekerja. Hanya demi mengumpulkan uang untuk bisa sekolah lagi, aku menceburkan diri lagi ke dunia periklanan. Walaupun rasanya sudah tak sanggup untuk berlama-lama di kantor, bersaing dengan anak-anak yang masih punya 100 nyawa setelah diterpa lembur, dan terutama sudah kehilangan semangat untuk berdebat dengan klien yang suka sok tahu.
Urusan UUD (Uang, Uang, dan Duit) inilah yang menyebabkan aku bekerja sudah kehilangan "passion". Mungkin akan lain jadinya, kalau aku bekerja kembali di periklanan karena memang aku bangga dan cinta jadi orang kreatif di periklanan. Aku pasti akan rela untuk berdebat dengan klien, tak peduli untuk diskusi cari ide sampai pagi, dan yang jelas masih punya tenaga untuk lembur sampai subuh.
Itu yang aku rasakan saat mengajar. Walaupun pernah aku baru pulang dari Bandung bersama teman-teman kantor hingga jam 4 pagi, namun jam 8 pagi aku sudah berdiri di depan kelas. Siap membagi ilmu kepada para mahasiswa hingga pukul 4 sore! Meskipun otaknya sudah sedikit melemah (maklum tak tidur sedikit pun), aku masih bisa membahas mengenai bagaimana membuat iklan radio. Yah, barangkali komitmen dan rasa tanggungjawab juga punya andil di sini.
Namun aku percaya bahwa apa pun yang kita lakukan memang merupakan refleksi dari tujuan pertama kali waktu kita berniat untuk melakukan hal tersebut. Dari sinilah aku mendapat pelajaran berharga. Hati-hati dengan tujuan pertama sebelum melakukan sesuatu. Karena hal itulah yang akan membawa langkah kita untuk melakukan hal selanjutnya.
Satu hal lagi yang aku percaya, niat yang baik dan dilakukan dengan tulus dan ikhlas, akan bisa berjalan dengan lancar.
Kamis, 03 Juli 2008
Do It Nicely
Hari itu Selasa, 1 Juli.
Sore hari, sedang terkantuk-kantuk memikirkan copy untuk pekerjaan, tiba-tiba telepon Flexi-ku berdering. Di layar terbaca RE DKV. Wah, ada apa nih? Pikirku dalam hati. Bapak ini adalah dosen koordinator mata kuliah Periklanan DKV yang aku pegang di semester ini di UPI YAI.
Dugaanku benar. Dia menelpon untuk melaporkan telah terjadi kehebohan saat ujian berlangsung. Ada mahasiswa yang ketahuan mencontek saat ujian. Parahnya lagi soal ujian beserta sebagian jawaban ada di tangan mahasiswa tersebut. Persis sama!!! Wah....!!!!
Sesaat aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Berita ini cukup mengejutkanku! Sebelum ujian, pada saat perkuliahan terakhir, aku sudah mengingatkan mahasiswaku untuk tidak mencontek, tetap percaya diri karena semua materi sudah aku berikan.
Usut punya usut ternyata kesalahan terjadi karena keteledoran Bapak ini. Akhirnya semua ujian dianulir dan akan ada ujian lagi setelah semua ujian selesai. Yah, seperti ujian susulan. Untuk itulah sang bapak minta aku membuat soal lagi.
Aku cukup kecewa karena artinya aku harus membuat soal lagi dan sepertinya hilanglah jerih payahku untuk menanamkan kejujuran di hati para mahasiswaku.
Akhirnya aku terpaksa harus bergadang sampai jam 12 malam untuk menyelesai soal ujian baru. Saking bingungnya, soal aku buat pilihan berganda dan esai. Aku cukup bingung karena soal harus dibuat sedemikanrupa untuk mengurangi kemungkinan mereka mencontek tapi membuat mereka tetap berpikir. Oleh karena itulah, soal pilihan berganda pun aku buat dari soal kasus.
Terus-terang, semenjak aku mulai menjadi dosen, seringkali setiap kali mahasiswa akan ujian, aku yang sakit perut. Takut mereka tak bisa menjawab soal-soal yang aku berikan, kasihan mereka tak bisa lulus, tapi di satu sisi aku tak ingin mereka lulus asal lulus. Aku ingin para mahasiswaku punya bekal untuk masuk dalam dunia kerja yang keras ini. Sebagai seorang pekerja kreatif di biro iklan, aku sudah cukup makan asam garam kerasnya dunia persilatan di periklanan ini. Kalau sekedar mengandalkan kreatif tapi tak punya ahlak, itu pun akan mental. Bermodalkan kemampuan dan kerja keras tapi tak punya talenta pun tak akan selamat. Wah, pokoknya terlalu banyak hal-hal menyeramkan dan menyenangkan terjadi. Jika tak punya kemampuan, akan cepat kita akan terlibas oleh yang lebih muda dan kreatif.
Sebagai orang yang pernah menjadi mahasiswa, aku cukup mengerti ketakutan tidak lulus para mahasiswa. Namun sayangnya mereka tidak melakukan sesuatu dengan baik untuk mengatasi ketakutan tersebut. Akhirnya kemalasan dan ketakutan itu betul-betul menjadi bumerang untuk mereka. Ujian harus diulang. Berarti mereka harus belajar kembali dan kali ini lebih ketakutan lagi, karena aku tak akan bisa paling tidak memberikan tanda-tanda akan seperti apa soal yang akan keluar. Hal yang biasanya aku lakukan sebelum mereka ujian.
Yah, aku hanya bisa bilang:
They just want to make it easy but they don't do it nicely.
Enam Juni
Seharusnya aku masukkan catatan ini tepat pada saat 6 Juni. Hanya saja pada hari itu aku masih mencoba berpikir ulang untuk menata kata-kata karena hari itu terlalu banyak kenangan melintas.
Hari ini ada tiga orang terdekat dalam hidupku yang berulangtahun. Ketiga orang ini telah memberikan warna dan pengaruh dalam perjalanan panjang seorang Nita. Aku hanya ingin berbagi cerita tentang siapa dan bagaimana mereka mewarnai bagian dari hidupku.
Yang pertama adalah: Eka Larasati.
Perempuan bertubuh kecil, agak subur, berkulit hitam, dengan rambut ikal, pendiam, dan murah senyum. Eka pertama kali ku kenal saat masuk ke Jurusan Jurnalistik Fikom UNPAD. Tepatnya Agustus 1988. Dia dilahirkan di Dumai, Riau pada 6 Juni 1970. Eka masuk ke Jurnalistik karena "kecelakaan". Kenapa? Karena sebetulnya dia tak pernah mendaftar ke sana. Dia mendaftar ke jurusan lain, tapi entah kenapa lulus ke jurusan itu. Mungkin itu sudah menjadi jalan hidupnya.
Eka, yang ku kenal adalah seorang sahabat yang baik, sabar, penolong, pokoknya luar biasa. Selama dia mampu, tak akan pernah kita mendengar keluhan, makian, atau hal-hal yang tak menyenangkan dari seorang Eka Larasati. Waktu kuliah, Eka dan Wendy adalah malaikat penolongku. Mereka berdualah yang paling rajin dan sering menjadi orang yang bisa aku titipkan absen. Kalau Wendy kadang-kadang suka malas, Eka tanpa banyak tanya, mengiyakan permohonanku.
Singkat kata, setelah lulus aku dan Wendy memutuskan kembali ke Jakarta untuk mengadu peruntungan. Sementara Eka berkeras untuk menetap di Bandung, karena rumah kos-kosan mereka di Bandung tak ada yang mengurusi. Namun, akhirnya Eka tak pernah benar-benar bekerja. Dia lebih banyak menghabiskan waktu sebagai ibu kos dan kakak untuk tiga orang adiknya. Semua hal yang dia lakukan itu mengajarkan aku untuk selalu sabar dan ikhlas menjalankan hidup. Kesabaran Eka dalam menjalani semuanya membuatku selalu bertanya apakah aku bisa sesabar dia jika harus menghadapi hal yang sama?
Setelah Wendy menikah dan dibawa Meneer ke Belanda, kita mulai jarang berhubungan. Apalagi setelah aku sibuk dengan pekerjaan, Eka seakan segan untuk menelpon. Takut ganggu, begitu selalu alasannya. Sampai suatu hari aku mendapat undangan pernikahan Eka. Dia akan menikah dengan seorang pria dari Malang atau Surabaya yang dikenalkan oleh adik iparnya. Wah, senangnya! Sayangnya, aku tak bisa menghadiri pernikahan yang bertepatan dengan peringatan KTT Asia-Afrika di Bandung.
Sekarang, Eka menetap di Bandung bersama suami dan seorang putri kecilnya. Kalau dulu, kita masih sering telepon untuk curhat (yang pastinya lebih sering aku yang cerita), akhir-akhir ini komunikasi hanya sekedar selamat puasa, lebaran, dan ulang tahun.
Walaupun begitu Eka telah membuat hidupku menjadi punya arti. Kesabaran yang Eka contohkan membuat aku sadar bahwa hidup tak bisa berjalan hanya untuk sepotong ambisi.
"Selamat ulang tahun Eka. Semoga ALLAH SWT selalu melimpahkan kasih-sayang-Nya, rakhmat, dan hidayah, serta lindungan-Nya pada Eka dan keluarga. Semoga Eka diberi kesabaran, kesehatan, keikhlasan, dan kesempatan untuk mengasuh dan mendidik anak-anak Eka hingga menjadi manusia yang soleh. Amin"
Orang kedua adalah: FH. Sengaja namanya tak ku buka agar tak terjadi kesalahpahaman.
Pria bertubuh kurus tinggi berambut panjang dengan kulit kuning langsat ini aku kenal pertama kali waktu masuk kerja di kantor pertamaku. Tepatnya Agustus 1994. Pria kelahiran Jakarta, 6 Juni 1969 ini adalah karyawan di kantor itu. Saat pertama kali melihatnya, aku sudah mendapat kesan yang menyenangkan. Mungkin karena lesung pipit di wajahnya.
Pria pencinta Batman ini ku kenal sebagai seorang teman yang sangat baik, penolong, dan loyal. Banyak hal-hal menyenangkan terjadi selama pertemanan kami. Hanya saja, ada satu waktu dimana dia marah dan kecewa padaku. Aku sangat mengerti kemarahan itu tapi tak bisa berbuat apa-apa karena semua terjadi begitu saja.
FH adalah seorang penyelamat bagiku. Dia mengajarkan aku untuk lebih santai menjalankan hidup. Tak perlu bersusah-payah menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan orang lain. Itulah hal yang paling sering dia katakan padaku. Dia adalah tempat untuk berbagi, bercerita yang paling baik. Kapan pun, bila dia mampu, FH akan mau mendengarkan keluh-kesahku tentang pekerjaan, pertengkaran dengan orangtua selama berjam-jam di telepon. Padahal aku tahu, dia juga punya masalah dan capek dengan pekerjaannya.
Tadinya aku pikir dia tak akan pernah mau mengenal aku lagi ketika amarah melanda dirinya. Ternyata dugaanku salah. Dia menepati janjinya untuk tetap menjadi seorang sahabat. Ketika akhirnya aku memberanikan dia untuk menelponnya, dia menjawab seakan-akan tak pernah ada masalah. Dia bahkan sekali lagi menyelamatkanku saat aku butuh tenaga bantuan untuk mengajar. Dia adalah sahabat anugrah dari ALLAH SWT yang terbaik yang pernah aku dapatkan. Terima kasih ALLAh karena Engkau telah memberi kesempatan bagiku untuk bisa mengenal seorang FH.
Terimakasih FH. Selamat ulang tahun. Semoga ALLAH SWT memberikan yang terbaik untukmu. Semoga ALLAh memudahkan segala jalan, memberikan kesehatan, kesabaran, dan keiklasan untukmu dalam menjalani hari-hari mendatang. Semoga ALLAH memberikan rakhmat dan hidayah-Nya sehingga keinginanmu untuk menikah dengan kekasih hati bisa terwujud. Amin.
Yang terakhir adalah: Aulia Rahman
Pria kecil bertubuh tinggi kurus ini adalah orang terdekatku yang juga lahir 6 Juni. Abang Rahman begitu dia dipanggil adalah keponakanku yang kedua. Dia lahir sesaat setelah kerusuhan Mei 1998 terjadi. Saat itu kita semua sudah ketakutan karena kakakku yang berwajah seperti Cina sedang hamil besar berada di kantornya di daerah Menteng. Alhamdulillah dia bisa sampai di rumah tanpa hambatan. Namun setibanya di rumah, kontraksi terjadi. Padahal rumah sakit tempat dia akan melahirkan cukup jauh dari rumah kita. Syukurnya, Rahman lahir setelah semuanya tenang.
Dia diberi nama seperti nama kakek dari ibuku. Waktu memberikan nama kakak iparku tidak tahu jika itu adalah nama kakek buyutnya. Kata ibuku di kemudian hari, sifat suka ngambeknya Rahman persis seperti kakek buyutnya. Namun, gaya berjalan, keramahtamahannya menurun dari ayahku -kakeknya.
Bagaimana tidak? Saat Rahman lahir, ketika itu pula kesehatan ayah mulai menurun. Jadi, ibunya- Aak Roos, kakakku- adalah orang yang paling repot mengurus segala sesuatunya. Rahman sering ditinggal bersama pembantu untuk menemani ayah ke rumah sakit. Akibatnya kenangan Rahman tentang kakeknya tidak sebanyak yang alami Riski, abangnya. Saat dia lahir, ayahku sudah tak boleh lagi menyetir sehingga dia tak pernah merasakan jalan-jalan sore keliling komplek naik mobil dengan kakeknya. Yang paling diingat Rahman dari kakeknya adalah waktu kami sekeluarga pulang ke Bangka. Itu adalah perjalanan ayah ke Bangka terakhir kalinya.
Rahman adalah anak yang lebih sensitif terhadap lingkungan sekitarnya. Sebagai anak berusia 10 tahun, dia cukup mengejutkan dengan aksi-aksi sosial atau pujian-pujiannya. Dia pernah membuka celengannya dan memberikan seluruh isinya kepada mantan pembantu dirumahku saat lebaran, karena kasihan dia punya anak kecil katanya. Lain waktu, uang jajannya selalu habis dan dia mengeluh kelaparan. Ternyata setelah diselidiki ibunya, dia sering memberikan sebagian uang jajannya kepada temannya yang sudah habis atau lupa diberikan uang jajan oleh ibunya. Walaupun dia sering bertengkar dengan neneknya, tapi Rahmanlah yang paling sering memuji dan berterimakasih kepada neneknya ketika sang nenek sudah bersusah-payah membuat kue-kue penganan sore.
Bahkan dia pernah menunjukkan kecemasannya saat melihat aku memeriksa sekian banyak kertas ujian mahasiswaku. Dengan Bahasa Inggris yang fasih dan ekspresi wajah yang cemas dia bertanya padaku," How many student do you have? That much??? Waw... that's much. You must be really... really tired". Saat itu aku rasanya ingin tertawa tapi sekaligus terharu. Bagaimana tidak... dia bisa memikirkan capeknya memeriksa ujian untuk anak kelas 4 SD.
Itulah Rahman. Selamat ulang tahun keponakanku tersayang. Semoga ALLAH SWT selalu melindungimu dalam kasih sayang-Nya, memberikan senantiasa rahkmat dan hidayah-Nya sehingga kamu bisa menjadi anak yang soleh, yang bisa mendoakan orang tuamu, menjadi anak yang berguna. Amin.
Selasa, 03 Juni 2008
Mudahkan Segalanya
Sebetulnya ini bukanlah tulisan baru, ini tulisanku dari blog-ku yang lain. Hanya saja ketika aku berhasil membuat blog ini, aku ingin berbagi cerita dengan teman-teman. Karena blog yang lama agak susah untuk diakses. Ini adalah curahan hati ketika Senin (02/06/08) lalu.
Senin pagi... lagi...
Rasanya baru kemarin hari Senin dan sekarang sudah Senin lagi. Sepertinya aku sudah mulai terkena "Monday Syndrome" lagi. Setiap Minggu malam, sepertinya seluruh badanku mulai terasa aneh. Kepala mulai pusing-pusing. Padahal kemarin waktu makan malam di luar bersama keluargaku, keluhan itu tak ada dan terasakan.
Sabtu kemarin, aku bertemu Retno- teman seperjuangan di kantor lama. Kami berdua ngobrol panjang lebar. Termasuk salah satu topiknya adalah bagaimana kita harus mensyukuri semua kebaikan yang telah kita terima selam ini. Salah satu yang harus disyukuri adalah pekerjaan yang sudah kita dapatkan. Setelah berjuang keras, kita berdua bisa bekerja kembali. Aku bisa kembali bekerja sebagai pekerja tetap di sebuah anak perusahaan iklan besar, sebagai Copywriter. Sementara Retno, walaupun pekerjaan yang sekarang dijalaninya hanya paruh waktu, tetapi paling tidak sekarang dia punya kesibukan baru. Mudah-mudahan hal ini bisa membuka jalan bagi Retno untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang lebih menjanjikan.
Dari pembicaraan panjang Sabtu malam itu, aku sangat menyadari bagaimana beruntungnya aku. Ditengah-tengah orang-orang kesulitan mendapatkan pekerjaan, Alhamdulillah aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang bisa mencukupi kebutuhan bulananku, terutama untuk membayar tagihan-tagihan kartu kreditku.
Sekarang, permasalahannya adalah bagaimana mengurangi segala keluhan yang berhubungan dengan pekerjaan itu. Agar aku bisa bekerja dengan penuh kesenangan, keikhlasan, dan sepenuh hati. Bukan bekerja dengan segala keterpaksaan atau setengah hati. Ah, sepertinya hal yang terakhir ini yang sulit. Apalagi dengan semua kejadian di kantor belakangan ini, membuat aku semakin merasa bekerja hanya sebagai "just for the sake of money".
Adakah jalan lain untuk membuat semuanya lebih berharga? Lebih menyenangkan dan layak untuk dipertahankan atau diperjuangkan untuk dilanjutkan?
Hanya sepotong doa yang aku kirimkan pagi ini:
"Ya Allah, yang Maha Rahim... mudahkanlah segala suatunya, terutama pekerjaanku hari ini. Berikan aku kesabaran dan keikhlasan untuk bisa menjalani semua yang telah Engkau berikan. Jadikan segala sesuatunya bermanfaat bagiku. Dan janganlah Engkah tinggalkan aku dalam segala kesulitan ini, karena hanya Engkaulah tempat aku meminta dan memohon pertolongan".
Semoga doa yang aku kirimkan pagi ini bisa menjadi bekal untuk memulai Senin pagi ini.
Ayo tetap SEMANGAT!!!
Akhirnya Punya Blogg Juga
Selasa, 3 Juni 2008
Terdorong oleh email dari seorang teman, akhirnya aku meneguhkan hati untuk punya blogg sendiri. Sebagai ajang untuk menyalurkan hobi menulis yang tidak pernah tersalurkan secara benar dan tepat. Secara benar maksudnya karena seringkali cerita yang hendak aku bagikan tak bisa selesai atau diselesaikan sampai disitu saja. Apalagi kalau bukan karena kekurangan waktu atau kehilangan alur cerita. Tidak tepat karena hanya berakhir di potongan buku catatan atau di handphone. Tidak benar-benar dipublikasikan untuk bisa dibaca oleh orang lain.
Setelah bersusah-payah (ternyata aku sedikit "gaptek") terwujudlah keinginanku untuk punya blogg sendiri. Alhamdulillah... Huray.... !!! Berlebihan, ya? Maklumlah...
Mudah-mudahan blogg ini bisa jadi ajang buat curhat, berbagi cerita bahkan sekedar pelampisan jeritan hati yang tidak bisa diceritakan pada siapa pun, kecuali yang di atas.
Cita-citanya... aku ingin mengisi blogg ini sebagai draft buat cerita-cerita yang tak berawal atau berujung. Barangkali suatu hari bisa disatukan dalam bentuk sebuah buku atau kumpulan cerpen. Amiiiiinnnn.
Terdorong oleh email dari seorang teman, akhirnya aku meneguhkan hati untuk punya blogg sendiri. Sebagai ajang untuk menyalurkan hobi menulis yang tidak pernah tersalurkan secara benar dan tepat. Secara benar maksudnya karena seringkali cerita yang hendak aku bagikan tak bisa selesai atau diselesaikan sampai disitu saja. Apalagi kalau bukan karena kekurangan waktu atau kehilangan alur cerita. Tidak tepat karena hanya berakhir di potongan buku catatan atau di handphone. Tidak benar-benar dipublikasikan untuk bisa dibaca oleh orang lain.
Setelah bersusah-payah (ternyata aku sedikit "gaptek") terwujudlah keinginanku untuk punya blogg sendiri. Alhamdulillah... Huray.... !!! Berlebihan, ya? Maklumlah...
Mudah-mudahan blogg ini bisa jadi ajang buat curhat, berbagi cerita bahkan sekedar pelampisan jeritan hati yang tidak bisa diceritakan pada siapa pun, kecuali yang di atas.
Cita-citanya... aku ingin mengisi blogg ini sebagai draft buat cerita-cerita yang tak berawal atau berujung. Barangkali suatu hari bisa disatukan dalam bentuk sebuah buku atau kumpulan cerpen. Amiiiiinnnn.
Langganan:
Postingan (Atom)
