Pagi ini dengan kesadaran penuh, akhirnya terpaksa harus aku akui sekali lagi,setelah sekian kalinya aku mengelak dan terus mengelak, dan menghindari mengungkapkan perasaan itu... aku menyerah! Pria itu, tak pernah benar-benar hilang dari hatiku. Ya, sekuat tenaga aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa tidak pernah ada apa-apa antara kami berdua, jadi tak perlu bagiku untuk terlalu jatuh pada dirinya berulangkali. Namun, inilah kenyataannya. Dia memang pergi, tapi bukan untuk menghilang. Dia hanya bersembunyi dengan aman di salah satu relung hatiku yang paling dalam, yang terdalam dengan diamnya. Sampai aku pun tak pernah menyadarinya hingga pada suatu saat dia akan keluar dengan sendirinya. Seperti hari ini. Berkali-kali aku terus mengelak dan mengatakan bahwa tidak pernah terjadi sesuatu yang istimewa diantara kami dan tidak akan pernah terjadi apa pun. Seberapa pun besarnya rasa itu dariku kepadanya, selama masalah keyakinan itu tak pernah selesai. Keyakinan akan Tuhan yang menciptakan dan bahwa dirinya juga punya rasa itu.
FH, bila bicara tentang pria ini, tidak ada satu pun rasionalku yang bisa jalan. Apalagi hatiku. Hanya dengan menyebutkan namanya, membuat seluruh kosa-kataku bisa hilang. Apalagi melihat sosoknya hadir di depan mata. Tak ada yang bisa menarikku untuk bisa berkonsentrasi, selain mengikuti seluruh gerak-geriknya. Begitu besar daya magnet yang dia berikan padaku. Sebesar itu pulalah aku berusaha untuk menghindarinya. Dengan beribu kali mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bisa bersatu dengannya. Beribu kali pula aku menyakinkan diriku sendiri untuk berhenti menunggu sesuatu harapan kosong. Tapi sekali lagi, begitu nama itu disebutkan -FH, aku tak akan mampu untuk berpaling.
Itulah kebodohan yang paling hebat yang pernah aku lakukan. Sejak pertemuan pertama kami Agustus 1994 di Image Commnunications, sebuah perusahaan publishing - tempat pertama kali aku bekerja, aku tak pernah bisa melepaskan hati ini untuk orang lain. Aku pernah, bahkan seringkali, mencoba berpaling, melakukannya dengan sepenuh hati, bahkan sampai mempertanyakan maksud Allah mempertemukan dia denganku, namun tak satu pun itu pernah berhasil dengan sukses mengenyahkan 100% nama itu termasuk sosoknya dari dalam hatiku.
Apalagi setelah kejadian 2004, setelah kami berbicara berdua terus-terang. Pada saat itu aku bisa melihat bagaimana kecewanya dan marahnya dia akan perasaanku pada dirinya. Di satu sisi, aku juga bisa melihat bagaimana aku telah kehilangan sahabat terbaikku. Setelah sempat menghilang beberapa waktu, dia datang kembali. Untuk menepati janjinya sebagai seorang sahabat. Sahabat yang siap membantu, yang bisa diandalkan dalam semua situasi. Hal ini yang membuat aku (kembali) tak pernah bisa untuk berpaling darinya. Dia ada disana saat aku kebingungan dan mengulurkan tangan untuk membantu dengan segala ketulusan hati yang aku tahu selalu dia miliki dari dulu.
Kenyataan ini yang membuatku semakin bersedih. Saat sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, aku selalu merindukan dirinya untuk bisa berbagi. Apalagi bila sesuatu kebahagiaan datang, betapa aku ingin mengatakan padanya semuanya bisa terjadi karena dirinya selalu mendampingiku. Namun, kini aku tahu kalau tak akan pernah lagi bisa mengatakannya. FH tidak pernah membalas smsku, panggilan tak terjawabku, pesan-pesan yang aku tinggalkan di Inbox emailnya atau pun di Facebooknya. FH tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Tapi aku tahu persis jawabannya. Ada seseorang yang bertahun-tahun mendampinginya dan sepertinya mereka telah memasuki tahap dimana semuanya akan menjadi lebih pasti. FH akan memasuki tahap baru dalam hidupnya. Aku bisa merasakannya karena dari dulu selalu ada kontak yang tak bisa aku jelaskan antara aku dan dia.
Aku bisa merasakan saat dia sakit, bingung,dan bahagia. FH juga tahu tentang masalah ini, bahkan pernah memintaku untuk memutuskan kontak itu. Aku tak pernah minta dan juga tak tahu bagaimana caranya untuk menghentikan semuanya. Itu terjadi dengan sendirinya. Memang, aku seringkali berusaha mengacuhkan semua kontak itu, tapi tak pernah berhasil. Yang ada, semakin aku berusaha untuk menekannya, semakin kuat kontak itu hadir dalam otakku. Sejauh ini, aku merasa FH baik-baik saja dan ini yang paling menakutkan. FH berada jauh sekali. FH akan pergi. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku bisa merasakan begitu. Padahal saat ini aku butuh sekali FH. Aku perlu datang padanya hanya untuk mengatakan bahwa aku tak akan pernah bisa menghilangkan rasa sayang itu dari diriku. Dan memintanya untuk membiarkan aku menyimpannya dalam hati sampai suatu hari nanti aku benar-benar bisa memiliki rasa sayang dari seseorang yang lain.
Mungkin hal ini terjadi karena peristiwa bersama Efaka. Aku tak dapat menyangkal bahwa penolakan dan perubahan sikapnya padaku membuat aku kembali melihat bagaimana FH dengan segala kebesaran hatinya membiarkan persahabatan diantara kami tetap berjalan seperti biasa. Sekali lagi, seperti kata Wendy... lukisan besar itu telah menutup lukisan-lukisan kecil lainnya yang berada dibelakangnya. Seberapa pun bagusnya lukisan kecil itu. Ah, terus-terang aku tak tahu apa yang harus aku lakukan lagi.
FH, pria ini, manusia kreatif yang penuh kerendahatian, ketulusan, dan perhatian ini tak akan pernah bisa membuatku menjadi manusia yang rasional. Pria yang selalu aku coba untuk lupakan sekuat tenaga. Dia yang telah membuatku menjadi begitu bodoh sehingga tak lagi bisa berpikir bahwa masih ada pria lain yang lebih baik di luar sana. Manusia yang selalu menarikku kembali pada kebodohan yang sama selama belasan tahun. Walau pun aku begitu ingin bisa terlepas dari segala kebodohan itu.
Ahhh... aku tak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan. Aku sungguh tak berdaya. Aku sangat letih dengan permainan hati ini. Aku hanya ingin duduk dengan tenang menunggu sampai kapan ada hati lain yang akan datang menjemputku, tanpa harus dipenuhi dengan perasaan pada dirinya.
FH, di mana pun engkau berada saat ini...
Aku akan berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik untukmu, memberikanmu kembali kesehatan seperti semua, dan melindungimu selalu.
Antara aku dan dirimu memang tak pernah terjadi sesuatu apa pun, kecuali sebuah persahabatan yang selamanya akan menjadi harta berharga buatku.
Tak ada lagi ungkapan yang bisa aku katakan padamu selain You're my bestest friend that I've ever have. I wish you're here now, just to hear how sad I was when that man turn me down. (Huahahahahaha... I know that my wish would never be come true.)
Senin, 01 Desember 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
