Seharusnya aku masukkan catatan ini tepat pada saat 6 Juni. Hanya saja pada hari itu aku masih mencoba berpikir ulang untuk menata kata-kata karena hari itu terlalu banyak kenangan melintas.
Hari ini ada tiga orang terdekat dalam hidupku yang berulangtahun. Ketiga orang ini telah memberikan warna dan pengaruh dalam perjalanan panjang seorang Nita. Aku hanya ingin berbagi cerita tentang siapa dan bagaimana mereka mewarnai bagian dari hidupku.
Yang pertama adalah: Eka Larasati.
Perempuan bertubuh kecil, agak subur, berkulit hitam, dengan rambut ikal, pendiam, dan murah senyum. Eka pertama kali ku kenal saat masuk ke Jurusan Jurnalistik Fikom UNPAD. Tepatnya Agustus 1988. Dia dilahirkan di Dumai, Riau pada 6 Juni 1970. Eka masuk ke Jurnalistik karena "kecelakaan". Kenapa? Karena sebetulnya dia tak pernah mendaftar ke sana. Dia mendaftar ke jurusan lain, tapi entah kenapa lulus ke jurusan itu. Mungkin itu sudah menjadi jalan hidupnya.
Eka, yang ku kenal adalah seorang sahabat yang baik, sabar, penolong, pokoknya luar biasa. Selama dia mampu, tak akan pernah kita mendengar keluhan, makian, atau hal-hal yang tak menyenangkan dari seorang Eka Larasati. Waktu kuliah, Eka dan Wendy adalah malaikat penolongku. Mereka berdualah yang paling rajin dan sering menjadi orang yang bisa aku titipkan absen. Kalau Wendy kadang-kadang suka malas, Eka tanpa banyak tanya, mengiyakan permohonanku.
Singkat kata, setelah lulus aku dan Wendy memutuskan kembali ke Jakarta untuk mengadu peruntungan. Sementara Eka berkeras untuk menetap di Bandung, karena rumah kos-kosan mereka di Bandung tak ada yang mengurusi. Namun, akhirnya Eka tak pernah benar-benar bekerja. Dia lebih banyak menghabiskan waktu sebagai ibu kos dan kakak untuk tiga orang adiknya. Semua hal yang dia lakukan itu mengajarkan aku untuk selalu sabar dan ikhlas menjalankan hidup. Kesabaran Eka dalam menjalani semuanya membuatku selalu bertanya apakah aku bisa sesabar dia jika harus menghadapi hal yang sama?
Setelah Wendy menikah dan dibawa Meneer ke Belanda, kita mulai jarang berhubungan. Apalagi setelah aku sibuk dengan pekerjaan, Eka seakan segan untuk menelpon. Takut ganggu, begitu selalu alasannya. Sampai suatu hari aku mendapat undangan pernikahan Eka. Dia akan menikah dengan seorang pria dari Malang atau Surabaya yang dikenalkan oleh adik iparnya. Wah, senangnya! Sayangnya, aku tak bisa menghadiri pernikahan yang bertepatan dengan peringatan KTT Asia-Afrika di Bandung.
Sekarang, Eka menetap di Bandung bersama suami dan seorang putri kecilnya. Kalau dulu, kita masih sering telepon untuk curhat (yang pastinya lebih sering aku yang cerita), akhir-akhir ini komunikasi hanya sekedar selamat puasa, lebaran, dan ulang tahun.
Walaupun begitu Eka telah membuat hidupku menjadi punya arti. Kesabaran yang Eka contohkan membuat aku sadar bahwa hidup tak bisa berjalan hanya untuk sepotong ambisi.
"Selamat ulang tahun Eka. Semoga ALLAH SWT selalu melimpahkan kasih-sayang-Nya, rakhmat, dan hidayah, serta lindungan-Nya pada Eka dan keluarga. Semoga Eka diberi kesabaran, kesehatan, keikhlasan, dan kesempatan untuk mengasuh dan mendidik anak-anak Eka hingga menjadi manusia yang soleh. Amin"
Orang kedua adalah: FH. Sengaja namanya tak ku buka agar tak terjadi kesalahpahaman.
Pria bertubuh kurus tinggi berambut panjang dengan kulit kuning langsat ini aku kenal pertama kali waktu masuk kerja di kantor pertamaku. Tepatnya Agustus 1994. Pria kelahiran Jakarta, 6 Juni 1969 ini adalah karyawan di kantor itu. Saat pertama kali melihatnya, aku sudah mendapat kesan yang menyenangkan. Mungkin karena lesung pipit di wajahnya.
Pria pencinta Batman ini ku kenal sebagai seorang teman yang sangat baik, penolong, dan loyal. Banyak hal-hal menyenangkan terjadi selama pertemanan kami. Hanya saja, ada satu waktu dimana dia marah dan kecewa padaku. Aku sangat mengerti kemarahan itu tapi tak bisa berbuat apa-apa karena semua terjadi begitu saja.
FH adalah seorang penyelamat bagiku. Dia mengajarkan aku untuk lebih santai menjalankan hidup. Tak perlu bersusah-payah menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan orang lain. Itulah hal yang paling sering dia katakan padaku. Dia adalah tempat untuk berbagi, bercerita yang paling baik. Kapan pun, bila dia mampu, FH akan mau mendengarkan keluh-kesahku tentang pekerjaan, pertengkaran dengan orangtua selama berjam-jam di telepon. Padahal aku tahu, dia juga punya masalah dan capek dengan pekerjaannya.
Tadinya aku pikir dia tak akan pernah mau mengenal aku lagi ketika amarah melanda dirinya. Ternyata dugaanku salah. Dia menepati janjinya untuk tetap menjadi seorang sahabat. Ketika akhirnya aku memberanikan dia untuk menelponnya, dia menjawab seakan-akan tak pernah ada masalah. Dia bahkan sekali lagi menyelamatkanku saat aku butuh tenaga bantuan untuk mengajar. Dia adalah sahabat anugrah dari ALLAH SWT yang terbaik yang pernah aku dapatkan. Terima kasih ALLAh karena Engkau telah memberi kesempatan bagiku untuk bisa mengenal seorang FH.
Terimakasih FH. Selamat ulang tahun. Semoga ALLAH SWT memberikan yang terbaik untukmu. Semoga ALLAh memudahkan segala jalan, memberikan kesehatan, kesabaran, dan keiklasan untukmu dalam menjalani hari-hari mendatang. Semoga ALLAH memberikan rakhmat dan hidayah-Nya sehingga keinginanmu untuk menikah dengan kekasih hati bisa terwujud. Amin.
Yang terakhir adalah: Aulia Rahman
Pria kecil bertubuh tinggi kurus ini adalah orang terdekatku yang juga lahir 6 Juni. Abang Rahman begitu dia dipanggil adalah keponakanku yang kedua. Dia lahir sesaat setelah kerusuhan Mei 1998 terjadi. Saat itu kita semua sudah ketakutan karena kakakku yang berwajah seperti Cina sedang hamil besar berada di kantornya di daerah Menteng. Alhamdulillah dia bisa sampai di rumah tanpa hambatan. Namun setibanya di rumah, kontraksi terjadi. Padahal rumah sakit tempat dia akan melahirkan cukup jauh dari rumah kita. Syukurnya, Rahman lahir setelah semuanya tenang.
Dia diberi nama seperti nama kakek dari ibuku. Waktu memberikan nama kakak iparku tidak tahu jika itu adalah nama kakek buyutnya. Kata ibuku di kemudian hari, sifat suka ngambeknya Rahman persis seperti kakek buyutnya. Namun, gaya berjalan, keramahtamahannya menurun dari ayahku -kakeknya.
Bagaimana tidak? Saat Rahman lahir, ketika itu pula kesehatan ayah mulai menurun. Jadi, ibunya- Aak Roos, kakakku- adalah orang yang paling repot mengurus segala sesuatunya. Rahman sering ditinggal bersama pembantu untuk menemani ayah ke rumah sakit. Akibatnya kenangan Rahman tentang kakeknya tidak sebanyak yang alami Riski, abangnya. Saat dia lahir, ayahku sudah tak boleh lagi menyetir sehingga dia tak pernah merasakan jalan-jalan sore keliling komplek naik mobil dengan kakeknya. Yang paling diingat Rahman dari kakeknya adalah waktu kami sekeluarga pulang ke Bangka. Itu adalah perjalanan ayah ke Bangka terakhir kalinya.
Rahman adalah anak yang lebih sensitif terhadap lingkungan sekitarnya. Sebagai anak berusia 10 tahun, dia cukup mengejutkan dengan aksi-aksi sosial atau pujian-pujiannya. Dia pernah membuka celengannya dan memberikan seluruh isinya kepada mantan pembantu dirumahku saat lebaran, karena kasihan dia punya anak kecil katanya. Lain waktu, uang jajannya selalu habis dan dia mengeluh kelaparan. Ternyata setelah diselidiki ibunya, dia sering memberikan sebagian uang jajannya kepada temannya yang sudah habis atau lupa diberikan uang jajan oleh ibunya. Walaupun dia sering bertengkar dengan neneknya, tapi Rahmanlah yang paling sering memuji dan berterimakasih kepada neneknya ketika sang nenek sudah bersusah-payah membuat kue-kue penganan sore.
Bahkan dia pernah menunjukkan kecemasannya saat melihat aku memeriksa sekian banyak kertas ujian mahasiswaku. Dengan Bahasa Inggris yang fasih dan ekspresi wajah yang cemas dia bertanya padaku," How many student do you have? That much??? Waw... that's much. You must be really... really tired". Saat itu aku rasanya ingin tertawa tapi sekaligus terharu. Bagaimana tidak... dia bisa memikirkan capeknya memeriksa ujian untuk anak kelas 4 SD.
Itulah Rahman. Selamat ulang tahun keponakanku tersayang. Semoga ALLAH SWT selalu melindungimu dalam kasih sayang-Nya, memberikan senantiasa rahkmat dan hidayah-Nya sehingga kamu bisa menjadi anak yang soleh, yang bisa mendoakan orang tuamu, menjadi anak yang berguna. Amin.