Rabu, 09 Juli 2008

Pesta Pernikahan

Menurut agama Islam, menikah itu adalah ibadah, menggenapkan separuh din, mengikuti sunnah nabi. Karenanya, dalam Islam, menikah harus disegerakan bila sudah mampu dan jangan ditunda-tunda agar tidak menimbulkan fitnah. Begitu yang selalu dipesankan oleh orang-orang tua. Tapi, bagaimana jika jodoh yang ditunggu belum juga muncul?

Minggu lalu, aku ke Bandung dalam rangka pernikahan salah seorang keponakanku. Akhir-akhir ini pernikahan keluarga yang aku datangi bukan lagi tingkatan tante atau sepupu tapi sudah ke tingkat para keponakan. Bahkan beberapa dari mereka sudah memberikan aku cucu. 

Dulu, ada beberapa masa dimana aku malas untuk datang ke pernikahan keluarga karena tak tahan dengan berondongan pertanyaan dan pernyataan klise seperti: kapan nyusul, nih? Ditunggu lho undangannya. Jangan terlalu asyik kerja, nanti lupa cari jodoh... dan lain-lain dan sebagainya. Telinga rasanya gatal! Rasanya ingin sekali teriak minta orang-orang itu diam dan bilang kalau itu bukan urusan mereka! Namun, sejalan dengan berlalunya waktu, aku tak pernah peduli dengan komentar itu lagi. Cara paling ampuh hanyalah diam dan berikan senyuman paling manis. 

Bagaimana orang-orang itu bisa berkomentar sementara mereka sebetulnya tak pernah tahu apa yang sebetulnya terjadi? Bagaimana mungkin mereka hanya menilai dari kulit luar saja? Beberapa orang saudaraku menilai, ketidakberuntungan aku menemukan jodoh karena terlalu asyik berkarir. Kerja... kerja... dan kerja terus! Dari pagi ketemu pagi lagi! Cari uang terus, sampai lupa cari jodoh! Ada lagi yang menilai, kalau aku terlalu pemilih. Bahkan ibuku sendiri pernah menilai kalau aku terlalu jual mahal. Milih-milih padahal dirinya sendiri modalnya cuma pas-pasan. Maksudnya wajahnya pas, pintarnya pas, hartanya pas... pokoknya serba pas alias rata-rata seperti orang kebanyakan saja. Harusnya dengan modal seperti itu kita jangan terlalu pemilih. Tapi, tahukah mereka sebetulnya apa yang terjadi? 

Ada beberapa alasan jika seseorang belum menikah. Aku tidak memakai istilah tidak menikah karena aku yakin, sebenarnya tiap orang punya keinginan untuk menikah, mempunyai pasangan. Mulai dari masih ingin melanjutkan sekolah, membina karir, belum mampu secara keuangan, hingga alasan yang tak bisa dijabarkan, yaitu: belum dipertemukan ALLAH dengan jodoh sebenarnya. 

Aku termasuk orang yang percaya akan hal terakhir ini. Aku pernah jatuh cinta -sering bahkan, namun belum pernah ada yang sukses hingga mengajak menikah. Saat ada yang menunjukkan sinyal-sinyal untuk menikah, aku tak pernah merasa ada rasa dengan orang itu. Ketika akhirnya aku merasa yakin dengan seseorang, manusia pilihanku itu malah menjatuhkan cintanya pada orang lain. Mencari kemana-mana sudah, berdoa juga sudah dilakukan, tapi jodoh itu tak kunjung sampai juga. Ada kalanya hati merasa lelah, tapi lebih sering bersemangat jika melihat sosok laki-laki tampan dan beribadah. Namun, kadangkala tak bisa dimungkiri, hati mulai merasa tak lagi peduli. 

Kini, aku dengan senang hati datang ke pernikahan keluarga. Buatku ini adalah salah satu ajang untuk menjadi jodoh. Siapa tahu ada laki-laki yang juga sedang mencari calon istri di acara tersebut. Dijodohkan? Boleh-boleh saja, selama keputusan akhir tetap ditangan aku. Sekarang, kalau ada yang bertanya kapan nikah, dengan tenang aku menjawab tolong doanya saja. Kalau ada kenalan, boleh dikenalkan. Siapa tahu bisa berjodoh. Kalau pun tidak, kita bisa menjalin silahturahim dengan lebih banyak orang. Menambah amalan.

Ini bukan alasan atau penghiburan buatku, tapi aku percaya ALLAH punya rencana lain. ALLAH sudah menyediakan jodoh terbaik buatku. Hanya saja waktunya belum tiba. Pesanku untuk semua orang yang belum bertemu dengan jodohnya, tetaplah semangat! Dan buat yang telah berjodoh, peliharalah jodoh kalian dengan sebaik-baiknya. Bersyukurlah karena kalian telah berhasil dipertemukan ALLAH dengan jodoh terbaik selama masih di dunia. 

* Untuk seseorang yang pernah bertahun-tahun mengisi hati ini.


Senin, 07 Juli 2008

Tergantung Tujuan

Ada beberapa kejadian di minggu lalu yang membuat aku merasa bahwa penting sekali menentukan tujuan kita melakukan sesuatu. Padahal tadinya aku merasa kita bisa melakukan apa saja tanpa perlu repot-repot menentukan tujuannya dulu. Ternyata hal itu bisa berpengaruh pada akhirannya. 

Singkat cerita, seorang rekan dosen menelponku suatu malam. Setelah serius membicarakan masalah soal ujian yang harus diulang, mulailah dia masuk ke dalam sesi curhat colongan. Dia menceritakan apa yang membawa dia menjadi dosen. Sebelum dia mulai bercerita, aku pikir dia mengajar karena uang. Ternyata dugaanku salah. Dia mengajar bukan mengejar honor sebagai pengajar, tapi ada sesuatu yang sangat jauh hubungannya dengan pendidikan. Saat dia bercerita, aku berkomentar dalam hati. Pantas saja dia agak susah untuk diajak bicara soal materi perkuliahan. Tujuannya beda. 

Aku ingin menjadi pengajar karena ingin berbagi pengalaman dengan anak-anak yang bercita-cita menjadi orang-orang iklan. Aku ingin mereka bisa menjadi tenaga yang handal bukan sekedar pandai membaca buku. Aku merasakan bagaimana tak bergunanya belajar selama 4-5 tahun, bahkan ada yang sampai 7 tahun di PT tapi tak bisa apa-apa saat terjun di dunia kerja. 
Dengan tujuan itu, uang menjadi urusan kedua. Mungkin akan berbeda, jika tujuan utamanya adalah demi uang. 

Nah, untuk urusan yang terakhir ini pulalah aku sekarang bekerja. Hanya demi mengumpulkan uang untuk bisa sekolah lagi, aku menceburkan diri lagi ke dunia periklanan. Walaupun rasanya sudah tak sanggup untuk berlama-lama di kantor, bersaing dengan anak-anak yang masih punya 100 nyawa setelah diterpa lembur, dan terutama sudah kehilangan semangat untuk berdebat dengan klien yang suka sok tahu. 

Urusan UUD (Uang, Uang, dan Duit) inilah yang menyebabkan aku bekerja sudah kehilangan "passion". Mungkin akan lain jadinya, kalau aku bekerja kembali di periklanan karena memang aku bangga dan cinta jadi orang kreatif di periklanan. Aku pasti akan rela untuk berdebat dengan klien, tak peduli untuk diskusi cari ide sampai pagi, dan yang jelas masih punya tenaga untuk lembur sampai subuh. 

Itu yang aku rasakan saat mengajar. Walaupun pernah aku baru pulang dari Bandung bersama teman-teman kantor hingga jam 4 pagi, namun jam 8 pagi aku sudah berdiri di depan kelas. Siap membagi ilmu kepada para mahasiswa hingga pukul 4 sore! Meskipun otaknya sudah sedikit melemah (maklum tak tidur sedikit pun), aku masih bisa membahas mengenai bagaimana membuat iklan radio. Yah, barangkali komitmen dan rasa tanggungjawab juga punya andil di sini. 

Namun aku percaya bahwa apa pun yang kita lakukan memang merupakan refleksi dari tujuan pertama kali waktu kita berniat untuk melakukan hal tersebut. Dari sinilah aku mendapat pelajaran berharga. Hati-hati dengan tujuan pertama sebelum melakukan sesuatu. Karena hal itulah yang akan membawa langkah kita untuk melakukan hal selanjutnya. 

Satu hal lagi yang aku percaya, niat yang baik dan dilakukan dengan tulus dan ikhlas, akan bisa berjalan dengan lancar. 

Kamis, 03 Juli 2008

Do It Nicely

Hari itu Selasa, 1 Juli. 
Sore hari, sedang terkantuk-kantuk memikirkan copy untuk pekerjaan, tiba-tiba telepon Flexi-ku berdering. Di layar terbaca RE DKV. Wah, ada apa nih? Pikirku dalam hati. Bapak ini adalah dosen koordinator mata kuliah Periklanan DKV yang aku pegang di semester ini di UPI YAI.

Dugaanku benar. Dia menelpon untuk melaporkan telah terjadi kehebohan saat ujian berlangsung. Ada mahasiswa yang ketahuan mencontek saat ujian. Parahnya lagi soal ujian beserta sebagian jawaban ada di tangan mahasiswa tersebut. Persis sama!!! Wah....!!!!
Sesaat aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Berita ini cukup mengejutkanku! Sebelum ujian, pada saat perkuliahan terakhir, aku sudah mengingatkan mahasiswaku untuk tidak mencontek, tetap percaya diri karena semua materi sudah aku berikan. 

Usut punya usut ternyata kesalahan terjadi karena keteledoran Bapak ini. Akhirnya semua ujian dianulir dan akan ada ujian lagi setelah semua ujian selesai. Yah, seperti ujian susulan. Untuk itulah sang bapak minta aku membuat soal lagi. 
Aku cukup kecewa karena artinya aku harus membuat soal lagi dan sepertinya hilanglah jerih payahku untuk menanamkan kejujuran di hati para mahasiswaku. 

Akhirnya aku terpaksa harus bergadang sampai jam 12 malam untuk menyelesai soal ujian baru. Saking bingungnya, soal aku buat pilihan berganda dan esai. Aku cukup bingung karena soal harus dibuat sedemikanrupa untuk mengurangi kemungkinan mereka mencontek tapi membuat mereka tetap berpikir. Oleh karena itulah, soal pilihan berganda pun aku buat dari soal kasus. 

Terus-terang, semenjak aku mulai menjadi dosen, seringkali setiap kali mahasiswa akan ujian, aku yang sakit perut. Takut mereka tak bisa menjawab soal-soal yang aku berikan, kasihan mereka tak bisa lulus, tapi di satu sisi aku tak ingin mereka lulus asal lulus. Aku ingin para mahasiswaku punya bekal untuk masuk dalam dunia kerja yang keras ini. Sebagai seorang pekerja kreatif di biro iklan, aku sudah cukup makan asam garam kerasnya dunia persilatan di periklanan ini. Kalau sekedar mengandalkan kreatif tapi tak punya ahlak, itu pun akan mental. Bermodalkan kemampuan dan kerja keras tapi tak punya talenta pun tak akan selamat. Wah, pokoknya terlalu banyak hal-hal menyeramkan dan menyenangkan terjadi. Jika tak punya kemampuan, akan cepat kita akan terlibas oleh yang lebih muda dan kreatif. 

Sebagai orang yang pernah menjadi mahasiswa, aku cukup mengerti ketakutan tidak lulus para mahasiswa. Namun sayangnya mereka tidak melakukan sesuatu dengan baik untuk mengatasi ketakutan tersebut. Akhirnya kemalasan dan ketakutan itu betul-betul menjadi bumerang untuk mereka. Ujian harus diulang. Berarti mereka harus belajar kembali dan kali ini lebih ketakutan lagi, karena aku tak akan bisa paling tidak memberikan tanda-tanda akan seperti apa soal yang akan keluar. Hal yang biasanya aku lakukan sebelum mereka ujian. 
Yah, aku hanya bisa bilang: 
They just want to make it easy but they don't do it nicely.

Enam Juni

Seharusnya aku masukkan catatan ini tepat pada saat 6 Juni. Hanya saja pada hari itu aku masih mencoba berpikir ulang untuk menata kata-kata karena hari itu terlalu banyak kenangan melintas. 

Hari ini ada tiga orang terdekat dalam hidupku yang berulangtahun. Ketiga orang ini telah memberikan warna dan pengaruh dalam perjalanan panjang seorang Nita. Aku hanya ingin berbagi cerita tentang siapa dan bagaimana mereka mewarnai bagian dari hidupku. 

Yang pertama adalah: Eka Larasati. 
Perempuan bertubuh kecil, agak subur, berkulit hitam, dengan rambut ikal, pendiam, dan murah senyum. Eka pertama kali ku kenal saat masuk ke Jurusan Jurnalistik Fikom UNPAD. Tepatnya Agustus 1988. Dia dilahirkan di Dumai, Riau pada 6 Juni 1970. Eka masuk ke Jurnalistik karena "kecelakaan". Kenapa? Karena sebetulnya dia tak pernah mendaftar ke sana. Dia mendaftar ke jurusan lain, tapi entah kenapa lulus ke jurusan itu. Mungkin itu sudah menjadi jalan hidupnya.

Eka, yang ku kenal adalah seorang sahabat yang baik, sabar, penolong, pokoknya luar biasa. Selama dia mampu, tak akan pernah kita mendengar keluhan, makian, atau hal-hal yang tak menyenangkan dari seorang Eka Larasati. Waktu kuliah, Eka dan Wendy adalah malaikat penolongku. Mereka berdualah yang paling rajin dan sering menjadi orang yang bisa aku titipkan absen. Kalau Wendy kadang-kadang suka malas, Eka tanpa banyak tanya, mengiyakan permohonanku. 

Singkat kata, setelah lulus aku dan Wendy memutuskan kembali ke Jakarta untuk mengadu peruntungan. Sementara Eka berkeras untuk menetap di Bandung, karena rumah kos-kosan mereka di Bandung tak ada yang mengurusi. Namun, akhirnya Eka tak pernah benar-benar bekerja. Dia lebih banyak menghabiskan waktu sebagai ibu kos dan kakak untuk tiga orang adiknya. Semua hal yang dia lakukan itu mengajarkan aku untuk selalu sabar dan ikhlas menjalankan hidup. Kesabaran Eka dalam menjalani semuanya membuatku selalu bertanya apakah aku bisa sesabar dia jika harus menghadapi hal yang sama?

Setelah Wendy menikah dan dibawa Meneer ke Belanda, kita mulai jarang berhubungan. Apalagi setelah aku sibuk dengan pekerjaan, Eka seakan segan untuk menelpon. Takut ganggu, begitu selalu alasannya. Sampai suatu hari aku mendapat undangan pernikahan Eka. Dia akan menikah dengan seorang pria dari Malang atau Surabaya yang dikenalkan oleh adik iparnya. Wah, senangnya! Sayangnya, aku tak bisa menghadiri pernikahan yang bertepatan dengan peringatan KTT Asia-Afrika di Bandung. 

Sekarang, Eka menetap di Bandung bersama suami dan seorang putri kecilnya. Kalau dulu, kita masih sering telepon untuk curhat (yang pastinya lebih sering aku yang cerita), akhir-akhir ini komunikasi hanya sekedar selamat puasa, lebaran, dan ulang tahun. 
Walaupun begitu Eka telah membuat hidupku menjadi punya arti. Kesabaran yang Eka contohkan membuat aku sadar bahwa hidup tak bisa berjalan hanya untuk sepotong ambisi. 
"Selamat ulang tahun Eka. Semoga ALLAH SWT selalu melimpahkan kasih-sayang-Nya, rakhmat, dan hidayah, serta lindungan-Nya pada Eka dan keluarga. Semoga Eka diberi kesabaran, kesehatan, keikhlasan, dan kesempatan untuk mengasuh dan mendidik anak-anak Eka hingga menjadi manusia yang soleh. Amin"

Orang kedua adalah: FH. Sengaja namanya tak ku buka agar tak terjadi kesalahpahaman. 
Pria bertubuh kurus tinggi berambut panjang dengan kulit kuning langsat ini aku kenal pertama kali waktu masuk kerja di kantor pertamaku. Tepatnya Agustus 1994. Pria kelahiran Jakarta, 6 Juni 1969 ini adalah karyawan di kantor itu. Saat pertama kali melihatnya, aku sudah mendapat kesan yang menyenangkan. Mungkin karena lesung pipit di wajahnya. 

Pria pencinta Batman ini ku kenal sebagai seorang teman yang sangat baik, penolong, dan loyal. Banyak hal-hal menyenangkan terjadi selama pertemanan kami. Hanya saja, ada satu waktu dimana dia marah dan kecewa padaku. Aku sangat mengerti kemarahan itu tapi tak bisa berbuat apa-apa karena semua terjadi begitu saja. 

FH adalah seorang penyelamat bagiku. Dia mengajarkan aku untuk lebih santai menjalankan hidup. Tak perlu bersusah-payah menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan orang lain. Itulah hal yang paling sering dia katakan padaku. Dia adalah tempat untuk berbagi, bercerita yang paling baik. Kapan pun, bila dia mampu, FH akan mau mendengarkan keluh-kesahku tentang pekerjaan, pertengkaran dengan orangtua selama berjam-jam di telepon. Padahal aku tahu, dia juga punya masalah dan capek dengan pekerjaannya. 

Tadinya aku pikir dia tak akan pernah mau mengenal aku lagi ketika amarah melanda dirinya. Ternyata dugaanku salah. Dia menepati janjinya untuk tetap menjadi seorang sahabat. Ketika akhirnya aku memberanikan dia untuk menelponnya, dia menjawab seakan-akan tak pernah ada masalah. Dia bahkan sekali lagi menyelamatkanku saat aku butuh tenaga bantuan untuk mengajar. Dia adalah sahabat anugrah dari ALLAH SWT yang terbaik yang pernah aku dapatkan. Terima kasih ALLAh karena Engkau telah memberi kesempatan bagiku untuk bisa mengenal seorang FH. 

Terimakasih FH. Selamat ulang tahun. Semoga ALLAH SWT memberikan yang terbaik untukmu. Semoga ALLAh memudahkan segala jalan, memberikan kesehatan, kesabaran, dan keiklasan untukmu dalam menjalani hari-hari mendatang. Semoga ALLAH memberikan rakhmat dan hidayah-Nya sehingga keinginanmu untuk menikah dengan kekasih hati bisa terwujud. Amin. 

Yang terakhir adalah: Aulia Rahman
Pria kecil bertubuh tinggi kurus ini adalah orang terdekatku yang juga lahir 6 Juni. Abang Rahman begitu dia dipanggil adalah keponakanku yang kedua. Dia lahir sesaat setelah kerusuhan Mei 1998 terjadi. Saat itu kita semua sudah ketakutan karena kakakku yang berwajah seperti Cina sedang hamil besar berada di kantornya di daerah Menteng. Alhamdulillah dia bisa sampai di rumah tanpa hambatan. Namun setibanya di rumah, kontraksi terjadi. Padahal rumah sakit tempat dia akan melahirkan cukup jauh dari rumah kita. Syukurnya, Rahman lahir setelah semuanya tenang. 

Dia diberi nama seperti nama kakek dari ibuku. Waktu memberikan nama kakak iparku tidak tahu jika itu adalah nama kakek buyutnya. Kata ibuku di kemudian hari, sifat suka ngambeknya Rahman persis seperti kakek buyutnya. Namun, gaya berjalan, keramahtamahannya menurun dari ayahku -kakeknya. 

Bagaimana tidak? Saat Rahman lahir, ketika itu pula kesehatan ayah mulai menurun. Jadi, ibunya- Aak Roos, kakakku- adalah orang yang paling repot mengurus segala sesuatunya. Rahman sering ditinggal bersama pembantu untuk menemani ayah ke rumah sakit. Akibatnya kenangan Rahman tentang kakeknya tidak sebanyak yang alami Riski, abangnya. Saat dia lahir, ayahku sudah tak boleh lagi menyetir sehingga dia tak pernah merasakan jalan-jalan sore keliling komplek naik mobil dengan kakeknya. Yang paling diingat Rahman dari kakeknya adalah waktu kami sekeluarga pulang ke Bangka. Itu adalah perjalanan ayah ke Bangka terakhir kalinya. 

Rahman adalah anak yang lebih sensitif terhadap lingkungan sekitarnya. Sebagai anak berusia 10 tahun, dia cukup mengejutkan dengan aksi-aksi sosial atau pujian-pujiannya. Dia pernah membuka celengannya dan memberikan seluruh isinya kepada mantan pembantu dirumahku saat lebaran, karena kasihan dia punya anak kecil katanya. Lain waktu, uang jajannya selalu habis dan dia mengeluh kelaparan. Ternyata setelah diselidiki ibunya, dia sering memberikan sebagian uang jajannya kepada temannya yang sudah habis atau lupa diberikan uang jajan oleh ibunya. Walaupun dia sering bertengkar dengan neneknya, tapi Rahmanlah yang paling sering memuji dan berterimakasih kepada neneknya ketika sang nenek sudah bersusah-payah membuat kue-kue penganan sore. 

Bahkan dia pernah menunjukkan kecemasannya saat melihat aku memeriksa sekian banyak kertas ujian mahasiswaku. Dengan Bahasa Inggris yang fasih dan ekspresi wajah yang cemas dia bertanya padaku," How many student do you have? That much??? Waw... that's much. You must be really... really tired". Saat itu aku rasanya ingin tertawa tapi sekaligus terharu. Bagaimana tidak... dia bisa memikirkan capeknya memeriksa ujian untuk anak kelas 4 SD.

Itulah Rahman. Selamat ulang tahun keponakanku tersayang. Semoga ALLAH SWT selalu melindungimu dalam kasih sayang-Nya, memberikan senantiasa rahkmat dan hidayah-Nya sehingga kamu bisa menjadi anak yang soleh, yang bisa mendoakan orang tuamu, menjadi anak yang berguna. Amin.