Jumat, 31 Oktober 2008

Maaf...

Memaafkan itu tak semudah mengucapkannya. Apalagi saat api kemarahan dan kekesalan itu masih setinggi langit. Ada unsur keikhlasan yang dalam di balik kata itu. Bahkan harus ada unsur untuk meninggalkannya pada masa lalu. Agar bisa berjalan dengan tenang di masa kini dan akan datang.

Namun, sekali lagi... apa daya kita manusia yang lemah ini? ALLAH SWT yang Maha Besar dan Maha Memiliki itu pun punya kosa-kata beribu maaf dalam kamus-NYA. Apalagi cuma kita, yang diciptakan-NYA.

Ya, ALLAH...
Bantu aku padamkan api amarah ini
Lepaskan aku dari jeratan angin topan kekesalan ini
Biarkan aku kembali dalam dekapan kedamaian hati.

Tambahkan keikhlasan dalam hatiku
Ikatkan kemurkaan dengan tali nan kuat.
Tambatkan selalu kasih-sayang di jiwa
Yang senantiasa rapuh ini...

Ya, ALLAH...
Biarkan lidahku berkata "Ku maafkan"
dengan keikhlasan yang sedalam samudra
dan seluas langit membentang.

Ya, ALLAH...
Biarkan aku pula untuk bisa berkata "Maafkan aku"
dengan penuh kerendahhatian
serendah kaki berpijak pada tanah.

Catatan kecil untuk efaka.
Terima kasih untuk nyala api kasih sayang itu...
dan maafkan atas ke-egoisan hati ini.
31 Oktober 2008