Kamis, 27 November 2008

Tidak Cukup Baik

Ketika aku terlibat kembali perasaan jatuh cinta pada seseorang dan akhirnya ternyata berujung dengan sebuah penolakan telak (hiks!), satu pertanyaan langsung timbul dalam hatiku. Apakah yang menyebabkan laki-laki ini (yang sekali lagi) menolakku? Apakah aku tidak cukup baik untuk dirinyakah? Peristiwa penolakan kali ini memang memberikan banyak sekali pelajaran berharga untukku. Membuat aku menjadi merasa wajib merenungkan kembali semua hal yang sudah terjadi. Apalagi untuk kali ini peristiwa yang sama terjadi lagi. Pertanyaan apakah aku tak cukup baik untuk dirinya, sepertinya layak untuk aku tanyakan pada diriku sendiri.

Seringkali kita sering mendengar pertanyaan bahwa orang baik berhak mendapatkan juga yang terbaik. Demikian juga sebaliknya. Makanya kalau mau mencari jodoh yang soleh, bergaullah di majelis taklim atau sering-sering meramaikan mesjid.
Kalau dipikirkan lagi, pernyataan itu tidak ada yang salah. Sangat betul bahkan menurutku. Setiap perbuatan akan mendapatkan ganjaran atau balasannya sesuai dengan yang telah kita lakukan. Oleh sebab itulah aku berusaha membuat semacam introspeksi kecil karena sepertinya memang ada yang kurang dari diriku.

Jika kita ingin melamar suatu pekerjaan, pasti kita akan berjuang sekuat tenaga untuk membuat Daftar Riwayat Hidup yang sebagus mungkin. Penuh dengan pencapaian yang telah berhasil kita raih. Sedapat mungkin hal-hal yang merugikan akan kita kurangi. Namanya juga sarana untuk menjual kemampuan kita. Untuk membuat orang yang mau mempekerjakan kita menjadi terpesona, terpincut, sampai akhirnya memutuskan untuk menjadikan kita sebagai karyawan. Itu hanya untuk urusan duniawi. Apalagi untuk urusan yang akhirat.

Buat aku, sebuah pernikahan tidak hanya berlangsung di dunia. Hal ini juga berhubungan dengan akhirat, karena nantinya kita akan diminta pertanggungjawaban oleh NYA. Tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah, sebagai istri dan ibu, bahkan sebagai anak. Dalam proses mencari jodoh yang benar secara Islam tidak mengenal adanya pacaran. Hanya ada proses pengenalan melalui ta'aruf. Peristiwa ini ditandai dengan menukar informasi diri pribadi, mungkin seperti Daftar Riwayat Hidup tapi pastinya lebih lengkap lagi.

Aku mencoba membuat Daftar Riwayat Hidup ku versi ini. Belum apa-apa, aku sudah malu sendiri. Malu karena belum apa-apa sudah terlihat jelas mengapa dia memilih wanita itu bukan aku. Latar pendidikan wanita pilihannya adalah Sekolah Tinggi Ilmu Agama, jurusan Tafsir Hadist. Subhanallah... sementara aku??? Lulusan Ilmu Jurnalistik. Tidak ada sedikit pun berhubungan dengan agama. Memang, aku diajarkan untuk membuat berita yang benar dan tidak memihak. Tetapi kebenaran manusia itu sampai di manakah?

Kedua, urusan sholat yang jadi tiang agama. Pastinya wanita tadi sholatnya bagus, dalam artinya tepat waktu, bacaannya baik, sering sholat sunnah, mengerjakan sholat malam. Aku??? Sholat sering kali menjelang malaikat menutup pintu doa, karena sementar lagi adzan berkumandang lagi. Alasannya??? Apalagi kalau bukan banyak kerjaan. Padahal sebetulnya apalah susahnya meninggalkan kerjaan barang 5-10 menit saja. Sholat sunnah kalo lagi ingat... dan biasanya hanya waktu subuh. Apalagi sholat malam. Sudah diniatkan... seringkali niat tinggal niat. Alarm dibunyikan untuk dimatikan lagi. Bagaimana mau bangun kalau mulai tidurnya saja baru jam satu atau dua pagi??? Jelas lah... bangun jam 3 setengah mati.

Itu urusan sholat. Lain lagi masalah mengaji atau membaca Al Qur'an. Pastinya sebagai lulusan ilmu tafsir, wanita ini bisa membaca Al Qur'an dengan baik, lengkap dengan tawujidnya. Dia pasti sering membuka lembar-lembar Al Qur'an, bahkan mungkin bisa memahami artinya dengan baik. Bagaimana dengan aku??? Dari dulu.... niatnya, sekali lagi niatnya... ingin membaca Al Qur'an setiap hari setelah sholat subuh. Dan itu pun tinggal sebatas niat. Aduuuuh.... jadi malu sendiri!

Kemudian, karena kuliahnya mengenai tafsir hadist... pastinya dia jauh lebih paham banyak soal hadist. Sementara aku hanya tahu sedikit dan tetap berusaha mencari hadist mana yang bisa dipercaya kajiannya. Masih banyak bolongnya.

Dan faktor terakhir... yang tak kalah penting. Faktor usia. Dari segi ilmu kedokteran dan biologi, usia wanita pilihannya adalah golongan usia produksi. Artinya lebih besar kemungkinannya wanita ini bisa memberikan keturunanan dibandingkan dengan aku, yang sudah tinggi usianya. Walau pun aku selalu berdoa semoga aku masih bisa diberi kesempatan untuk mempunyai anak, namun aku harus siap dengan kemungkinan terburuk.

Wah, kalau melihat faktor-faktor di atas, sudah selayaknya aku mawas diri. Tak perlu lagi mengajukan pertanyaan apakah aku tak cukup baik untuk dirinya? Rapor ku banyak sekali angka merahnya. Semuanya sudah jelas menjawab pertanyaan ini.

Apa yang aku tuliskan ini bukan berarti aku merendahkan diriku sendiri. Bukan! Justru ini adalah cambuk buat aku. Kalau aku ingin naik kelas dengan baik, masih banyak nilai yang harus aku perbaiki. Dengan sisa usia yang aku tak pernah tahu berapa lama, sepertinya aku harus bekerja ekstra keras. Agar bila nanti waktunya tiba, aku bisa masuk dalam golongan hamba ALLAH yang beruntuhg. Tulisan ini sebenarnya menjadi motivasi buatku untuk tidak sekedar niat, tapi harus segera mewujudkan niat itu dalam tindakan nyata.

ALLAH sayang pada ku! Aku ditegurnya lewat jalan yang lembut. ALLAH hanya mengenalkan aku dengan pria ini. Persahabatan yang baru terjalin singkat ini telah banyak mengajarkan hal-hal positif buatku. Saat keimananku sedang berada pada titik dibawah, ALLAh angkat kembali dengan cara yang sakitnya hanya sebentar. Memang, aku perlu tenaga lebih untuk bisa memahami dan kemudian memaknai segala sakitnya hati ini dengan cara pandang yang positif.

Karena itulah aku hanya bisa bersyukur karena ALLAH telah mempertemukan aku dengan pria ini, seorang efaka.
Saat ini aku hanya bisa berdoa, semoga dia bisa segera mewujudkan keinginannya untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawardah, dan warahmah dengan wanita pilihannya itu. Efaka adalah manusia yang baik dan dia berhak mendapatkan yang terbaik juga. Untukku sendiri???? Aku percaya ALLAH juga telah menyiapkan yang terbaik juga.

Ayo Nita... kamu pasti bisa mewujudkan semua niat baik itu agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat.

You're strong, tough, happy, and healthy!!!! Keep fighting and trying harder!!!


Catatan kecil sebagai terima kasihku untuk seorang efaka, karena senantiasa mengingatkanku untuk kembali kepadaNYA.
May GOD bless u.

Rabu, 26 November 2008

Selalu Ada Pilihan

Dalam hidup selalu ada pilihan. Ada hitam, putih, bahkan abu-abu. Ada lurus, belok, atau putar balik. Ada pria, wanita, bahkan yang masih bingung akan memilih yang mana. Ada yang memilih untuk hidup dengan jalan yang benar walau harus menderita, ada yang memilih kaya dengan jalan yang salah, atau malah tidak tahu apakah jalan yang dipilih salah atau benar. Intinya kita manusia selalu dihadapkan pada suatu pilihan. Masalah apakah pilihan kita itu benar atau tidak, sekali lagi tergantung cara kita berpikir dan objektif hidup kita.

Dua minggu terakhir, aku dihadapkan pada dua pilihan sulit. Bertahan atau pergi. Bertahan dalam segala hal. Bertahan terhadap pilihan untuk tetap kerja kantoran dan berhadapan dengan kemacetan parah setiap hari atau mulai bekerja dari rumah. Bertahan untuk tetap di Jakarta atau lebih asyik dengan tantangan baru di bidang baru di kampung halaman (hmm... pulang ke Bangka???!!!).

Hari ini ada pilihan baru lagi... memulai tahun baru dengan hati yang baru bersih dari pria berinisial FH dan FAH atau mencoba keberuntungan baru di negeri baru. Negeri yang sejak dulu ingin aku kunjungi dan tinggal di sana. Kalau pilihan terakhir yang aku pilih... itu artinya aku harus ninggalin ibu, satu-satunya orang tua yang masih aku miliki. Menitipkan Ibu dalam penjagaan aak, kakakku satu-satunya yang juga udah cukup repot dengan keluarganya.
Tapi kalau aku memilih tinggal, itu artinya aku harus berhadapan dengan manusia-manusia yang setiap hari akan mengajukan pertanyaan yang sama soal status pribadiku. Yang pastinya bikin aku tambah bingung.

Ah, selalu ada pilihan dalam hidup ... yang membuat kita manusia berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain.
Kita diberi akal pikiran untuk bisa membuat pilihan yang sekali lagi... bukan hal yang mudah.
Barangkali cara termudah adalah membiarkan Allah menuntun kita melakukan pilihan melalui bisikan hati, insting, atau apa lah itu namanya. Namun sekali lagi, diperlukan kepekaan yang tinggi untuk mengartikan bisikan hati itu. Hmmm.... waktu terus berjalan... mampukah aku memilih sebelum tahun berganti???

Senin, 17 November 2008

Needs Big Hug

Aku lagi butuh dukungan moral dari orang-orang terdekat. Terutama bahu yang lapang buat aku bisa mencurahkan air mataku tanpa ada orang yang bisa melihat. Butuh orang yang bisa mendengar tanpa perlu berkomentar yang tidak penting. Aku butuh semuanya untuk sebuah keputusan besar yang sudah aku ambil dan sebuah keputusan besar lainnya yang mungkin akan mengubah hidup aku dan orang-orang terdekat di sekelilingku.

Dari minggu lalu, aku maju mundur dengan keputusan ini dan tadi malam satu keputusan telah terjadi. Dengan segala konsekuensinya, aku terima walau pun hari ini aku bekerja dengan rasa seperti ada sebilah pisau tertancap di dada.
I'm bleeding but that's ok. It'll heal as time goes by eventhough I don't know how long it would take.Doa gua semoga ini bisa secepatnya berlalu.

Dan untuk keputusan besar berikutnya, terpaksa aku tunda hingga semester ini berlalu. Karena aku masih punya tanggung jawab moral terhadap para mahasiswa ini. Dan untuk keputusan terakhir inilah aku butuh dukungan yang luar biasa dari keluarga dan semua orang yang dekat secara batin mau pun fisik selalu ada di sampingku, yaitu para sahabat dekatku.

Permohonan aku cuma satu...
Ya ALLAH... aku capek, aku udah gak sanggup...
Maafkan aku yang ALLAH kalo aku akhirnya harus menyerah.
Aku tahu ALLAH tidak suka orang yang gampang menyerah...
tapi kali ini aku benar-benar sujud untuk minta ampun karena aku udah gak sanggup.
Izinkan aku untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah ku perbuat ya, ALLAH...
dan setelah itu izinkan aku untuk pergi atau pun pulang.

Saat ini aku hanya ingin berada dalam pelukan yang bisa menentramkan aku bahwa everything will be alright. It's just a part of tough journey that I have to pass it to a new better life.

Selasa, 11 November 2008

IBU

Ada hal yang menggelitik terjadi pada dirimu hari ini. Ditengah kesibukan membuat copy untuk iklan, aku mendengarkan lagu sebagai penggugah semangat sekaligus mencari sumber inspirasi kosa-kata. Salah satu lagu yang aku dengarkan adalah album Bunda dari AFI Junior. Bukan album baru, tapi baru aku temukan lagi setelah sekian lama tersimpan rapi di salah satu USB-ku. Album itu adalah tribut untuk Ibu dari berbagai negara dan bahasa.

Ibu - ada berbagai panggilan sayang serupa, seperti: bunda, mak, inang, mama, mommy, ummy, dan masih banyak lagi. Namun intinya itu adalah panggilan untuk wanita yang sudah bersuami atau panggilan takzim kepada wanita (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Yang jelas, buat aku Mak begitu aku memanggilnya adalah seorang wanita yang sangat aku cintai dan hormati, karena dialah aku bisa seperti sekarang ini.

Barangkali kita (mungkin lebih tepatnya aku) seringkali melupakan bagaimana besarnya cinta, perjuangan, dan pengorbanan Ibu terhadap anak-anaknya. Itulah sebabnya saat aku mendengarkan album itu rasanya aku ingin segera pulang untuk bisa memeluk, mencium, dan membisikkan kalimat bagaimana aku sangat menyayangi Mak. Keberadaan Mak terutama setelah meninggalnya Ayah merupakan salah satu alasan aku untuk bisa terus bertahan dan berjuang menghadapi segala rintangan hidup. Karena aku juga ingin bisa menjadi anak kebanggaan Mak, bukan hanya Aak yang sudah sangat sering dipuji Mak.

Terus-terang hubunganku dengan Mak tidak terlalu dekat. Aku lebih dekat dengan Ayah. Sepertinya Ayah lebih banyak bisa memahami diriku daripada Mak. Tapi Mak dengan naluri seorang ibunya mampu memberikan kehangatan, kasih sayang, dan teladan yang luar biasa untuk ku, terutama bila nantinya aku berkeluarga. Mak telah melakukan apa pun yang dia bisa untuk anak-anaknya dan aku yakin Mak akan terus melakukan itu kalau perlu hingga napas terakhirnya.

Apa yang tidak Mak berikan untukku? Di setiap langkahku ada doa Mak yang selalu menyertai. Mak memang tak pernah banyak bicara, tapi dari sorot matanya aku tahu walau pun tak setuju, Mak tetap akan selalu berdoa agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Aak dan aku bisa bersekolah tinggi, terpisah dari Ayah dan Mak dari SMP bukan karena mereka tak sayang. Namun Mak ingin kami sebagai anak-anak perempuannya suatu hari nanti bisa mandiri ketika keadaan memaksa kami untuk menjadi kepala keluarga. Mak dengan segala kesedihan dan kepahitan yang dialaminya selama menjalani kehidupan rumah tangga, mampu menerima semua kekurangan pasangannya dan menyimpannya dengan rapi. Hanya karena tak ingin anak-anaknya kehilangan respek pada Ayahnya.

Berapa pun umur aku dan Aak, buat Mak kami tetap adalah anak-anaknya yang selalu dilimpahkan dengan perhatian, yang kadang-kadang membuat kami menjadi jengah karena merasa terlalu dilayani. Mak akan bangun pagi hari memastikan aku pergi kerja dengan perbekalan yang cukup. Hal yang sama Mak lakukan saat aku masih SD atau SMP. Padahal aku sudah berkali-kali mengatakan pada Mak untuk tak usah repot, karena aku bisa menyiapkannya sendiri kalau memang ingin membawa sesuatu dari rumah. Tapi Mak tetap Mak. Semuanya tetap dia lakukan.

Mak pula lah yang memberikan aku kesempatan untuk pergi haji. Tak akan pernah bisa hilang dari ingatanku hari ini. Waktu itu kami sekeluarga sedang makan siang dalam rangka memperingati hari ulang tahunku. Kebetulan Makcu, adik Mak dari Bandung datang ke Jakarta. Makcu dan Om rencananya tahun depan akan berangkat haji. Kedatangan mereka ke Jakarta juga dalam rangka untuk mengurus segala persiapan awal. Tiba-tiba Mak memberikan penawaran yang membuatku merasa sangat kecil. Mak memberikan tawaran untuk ku pergi haji bersama Makcu dan suaminya dengan uang depositonya. Bayangkan! Aku saat itu sudah bekerja bertahun-tahun tapi tak pernah bisa menabung sebanyak itu. Betapa malunya aku! Seharusnya aku sebagai anak yang menghajikan orang tuanya, sekarang keadaan malah berbalik. Alasan Mak sederhana, mumpung masih ada mahram untuk pergi. Beribu kali Alhamdulillah aku ucapkan. Mak sekali lagi mengejutkan aku dalam kediamannya.

Itulah sebabnya aku menjadi sedih sekali ketika Mak mulai mengungkit-ungkit lagi masalah status kesendirianku. Betapa aku ingin mengabulkan keinginan Mak untuk bisa melihat aku menikah sebelum dia pergi. Namun, aku tak punya kuasa karena semuanya ada di tangan Yang Di Atas. Aku hanya bisa berharap semoga Mak bisa dan ada di sampingku saat aku menikah nantinya. Rasanya kalau bisa dan boleh saat itu aku mengemis pada ALLAH agar bisa mengabulkan permintaan Mak itu, akan aku lakukan.

Mak dan beribu bahkan berjuta Ibu lainnya di seluruh dunia, pasti akan melakukan hal yang sama untuk anak-anaknya. Dan hebatnya lagi, tak pernah ada pamrih dari mereka minta balas jasa. Bayangkan kalau mereka minta bayaran karena telah mengasuh, membesarkan, dan mendidik kita! Tak akan pernah ada nilai yang cukup untuk menggantikannya. Mereka telah mempertaruhkan nyawa saat melahirkan kita. Tak sedikit dari mereka yang dengan sangat ikhlas melepaskan mimpi-mimpi mereka untuk merawat anak-anaknya. Berapa banyak pengorbanan materi yang mereka singkirkan demi untuk membelikan sepotong baju baru atau bahkan menyekolahkan kita. Berapa panjang malam-malam melelahkan saat harus menjaga anak-anaknya sakit dan terus merengek sepanjang malam. Subhanallah... wanita yang tampaknya lemah itu diciptakan ALLAH penuh dengan kekuatan.

Mak, tak akan pernah cukup rasa terima kasih yang ingin aku sampaikan. Apa yang aku lakukan sekarang untuk bisa menjaga Mak seperti yang dulu Ayah lakukan, tak sebanding dengan semua yang pernah Mak lakukan untuk menjagaku.
Terima kasih, Mak. Aku sayang dan tak akan pernah lupa akan semua cinta, kasih sayang, dan semua yang Mak berikan. Maafkan aku jika hingga hari ini aku belum bisa menjadi anak yang Mak bisa banggakan. Maafkan aku jika selalu merepotkan dan membuat Mak tidak tenang. Semoga suatu hari nanti Mak bisa mengatakan bahwa aku juga adalah kebanggaannya. Maafkan Nita, Mak.

Hanya doa yang bisa ku panjatkan... Semoga ALLAH SWT membalas semua kasih sayang dan cinta Mak kepada kami. Semoga ALLAH memberikan kesempatan bagi Mak untuk bisa melihat aku menikah. Semoga ALLAH tak membiarkan lagi Mak menangis dalam kesedihan yang hanya bisa Mak bagi dengan-NYA. Semoga ALLAH mudahkan segalanya diusia Mak yang sudah cukup tinggi. Amin. Amin. Amin.

Barangkali lagu anak-anak dibawah ini bisa mengingatkan kita kembali pada masa kecil dan kasih sayang Ibu yang tak pernah redup. Marilah kita lebih sering mengatakan cinta kepada Ibu agar mereka tahu betapa besar kasih sayang kita kepada mereka.

Di Matamu Mama
Cipt. AT. Mahmud

Dimatamu mama ada bintang
Gemerlapanbila ku pandang.

Dimatamu mama ada bintang
Yang tak pernah pudar bersinar.

Dimatamu mama ada kasih sayang
Yang slalu bersinar terang.

Dimatamu mama ada kasih sayang
Yang slalu bersinar terang

Andai Aku Bisa...

Sepotong bait dari salah satu lagu Chrisye itu tiba-tiba menempel di telingaku. Dengan suaranya yang khas, bait-bait dalam lagu itu seakan menyuarakan suasana hatiku yang saat itu sedang bergejolak tak jelas. Sebenarnya itulah kata yang ingin aku katakan pada seseorang yang dalam hari-hari terakhir ini mampu memberikan warna lain dalam hidupku. Betapa aku ingin bisa menjelaskan kepadanya betapa besarnya rasa yang aku punya untuk dirinya. 
Namun sayang, aku tak punya keberanian untuk itu. Yang bisa aku lakukan hanyalah berharap dari jauh, mudah-mudahan dia menyadari bahwa ada rasa itu untuknya. 

Hmmm... Andai aku bisa, ingin ku katakan padanya aku tak pernah tahu kapan rasa itu ada. Aku tak pernah tahu bagaimana aku harus menyikapi rasa itu. Aku tak pernah mengerti bagaimana rasa itu bisa bercokol di salah satu relung hatinya. Dan andai aku bisa... aku akan dengan tenang berdiri di hadapanmu dan berkata bagaimana aku menyayangimu setulus hati dan berharap ada rasa yang sama darimu.

Andai aku bisa... sebuah kalimat pengharapan terakhir dariku. 
Namun... karena aku tak tahu harus bagaimana, aku harus menyerah. 
Menyerah sebelum semuanya terlanjur terasa lebih sakit. 
Andai aku bisa... aku ingin melihat dirinya sekali lagi sebelum semuanya benar-benar aku tutup untuk menjadi sebuah masa lalu. 

Andai aku bisa...


Senin, 10 November 2008

Jatuh Cinta (Lagi)

Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Mungkin kalau itu kejadian bertahun-tahun yang lalu, aku akan dengan sukacita menerimanya dengan tangan lebar. Tapi jatuh cinta di saat seperti sekarang ini??? Hmmm... sangat susah untuk dikatakan. Bukan berarti aku tidak mensyukurinya namun sesungguhnya perasaaan was-was lah yang ada.

Bagaimana tidak???!!! Bertahun-tahun lamanya, lebih tepatnya mungkin beberapa belas tahun lalu, aku mendapat anugrah cinta yang luar biasa. Aku yang tak pernah percaya pada pandangan pertama, bisa langsung tunduk dan jatuh saat pertama kali melihat pria BGST. Setelah itu... yah, itu tadi. Semua terasa begitu indah, terkadang membingungkan, membuat siang jadi malam dan sebaliknya... dan berjuta perasaan aneh lainnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya penantian kosong itu harus disudahi dengan telak. Tak ada yang terjadi walaupun asa itu tak pernah hilang. Aku harus dihadapkan pada kenyataan bahwa pria BGST itu tak pernah menganggap bahwa rasa itu pernah ada pada dirinya. Malah aku menjadi penghianat, karena dianggap menghianati persahabatan yang ditawarkan olehnya. Hati ini pun terluka parah. Terseok-seok berusaha menjadi kuat kembali dan membiarkan waktu menjadi obat pahit untuk menawarkan luka itu. 

Setelah kejadian itu, walau pun akhirnya kita tetap berteman baik, aku menjadi sedikit takut untuk jatuh cinta lagi. Takut jika hati ini salah memilih lagi dan terluka kembali. Namun, sekali lagi, aku hanyalah manusia biasa. Manusia yang tak pernah bisa menghindari apa yang ingin dilakukan oleh Sang Pencipta. Sekali lagi aku jatuh cinta. Sekali lagi jatuh pada orang yang salah. Beruntung hati ini belum terlalu dalam. Jadi tak pernah ada luka yang harus dirawat. Hanya tergores sedikit, tak berdarah. Saat itu aku meng-sms pria BGST. Jawabannya membuatku agak terpana, "... sensor attractionmu perlu direstart kayaknya". Wah, sebegitu parahkah????!!!! 
Aku tak terlalu ambil pusing. Hanya saja, setelah itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tak lagi berharap apa-apa. Aku mencoba untuk menerima dengan lapang dada, barangkali ALLAH SWT telah menyiapkan jodoh terbaik untuk ku bukan di dunia, tapi disimpan untuk nanti. Karena ALLAH lebih tahu yang terbaik untuk aku.

Tapi sekali lagi, ALLAH berbaik hati padaku. Disaat aku mulai merasa yakin bisa hidup sendiri, ALLAH hadirkan kembali rasa itu di dada ini. Aku jatuh cinta... lagi. Kali ini... sekali lagi... dengan orang yang salah lagi. Tak bisa aku paparkan, namun perasaanku mengatakan bahwa rasa ini tak bisa diteruskan. Mungkin orangnya tak salah, hanya hati ini yang salah memilih. Karena saat rasa itu masuk ke hati, aku tak pernah menyadarinya. Tiba-tiba saja dia sudah ada disana, duduk dengan manisnya dalam salah satu sudut relung hati. 

Ketika aku menyadarinya, rasa takut itu menaklukkan segala rasa keikhlasan yang aku miliki. Karena aku sadar, bila kali ini hati sudah tertanam kembali, tidak akan mudah bagiku untuk bisa berdiri kembali. Seakan-akan tak terjadi apa-apa dan kembali melanjutkan hidup seperti biasa. Malam itu dengan berurai air mata aku memohon pada ALLAH, karena aku tak punya daya apa-apa. Pada malam itu pula, aku menyadari sekali lagi... kembali lagi... aku harus merelakan cinta itu pergi lagi, karena aku belum dianggap berhak untuk menyimpannya dalam hati selamanya. Sekarang, di malam ini aku berusaha untuk menahan agar air mata ini tak lagi turun, untuk bisa dengan ikhlas merelakan rasa itu pergi meninggalkan hati ini... sekali lagi. Aku harus bisa untuk merelakan hati ini kehilangan cinta itu lagi. Dalam diam, hanya doa yang bisa aku panjatkan... agar ALLAH SWT selalu menjaga agar aku bisa tetap berdiri seperti kemarin dan esok. 


Dear GOD…

I’ve never thought one day I’d ask YOU this
I’ve never imagined this could exist
I’ve never even dreamt it would happen
But now, I am trapped in it.

I never ask for a lot of money
I am not brave enough to ask for fame
I just ask one simple thing…
Let me be in love again.


Let me laugh just to hear his voice
Let me glow just after receiving a romantic poem
Let me be happy just for a rose
Let me fly just to see his silhouette.

Then the blue cloud is turning into grey cloud
The sun is hiding behind the cloudy dark sky
The wind is turning into the storm
The moon won’t show up.

GOD…
If I don’t deserve it
Let this feeling go soon
Don’t let it stay longer
Don’t let it hurt me again.

Dear GOD…
Please let me keep only the good things of love
In my heart forever
Please let me keep the last man’s love
Deep down at the bottom of my heart.


For efaka -the love that I can’t have.
Let it go, GOD… please…
29 October 2008