Selasa, 11 November 2008

IBU

Ada hal yang menggelitik terjadi pada dirimu hari ini. Ditengah kesibukan membuat copy untuk iklan, aku mendengarkan lagu sebagai penggugah semangat sekaligus mencari sumber inspirasi kosa-kata. Salah satu lagu yang aku dengarkan adalah album Bunda dari AFI Junior. Bukan album baru, tapi baru aku temukan lagi setelah sekian lama tersimpan rapi di salah satu USB-ku. Album itu adalah tribut untuk Ibu dari berbagai negara dan bahasa.

Ibu - ada berbagai panggilan sayang serupa, seperti: bunda, mak, inang, mama, mommy, ummy, dan masih banyak lagi. Namun intinya itu adalah panggilan untuk wanita yang sudah bersuami atau panggilan takzim kepada wanita (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Yang jelas, buat aku Mak begitu aku memanggilnya adalah seorang wanita yang sangat aku cintai dan hormati, karena dialah aku bisa seperti sekarang ini.

Barangkali kita (mungkin lebih tepatnya aku) seringkali melupakan bagaimana besarnya cinta, perjuangan, dan pengorbanan Ibu terhadap anak-anaknya. Itulah sebabnya saat aku mendengarkan album itu rasanya aku ingin segera pulang untuk bisa memeluk, mencium, dan membisikkan kalimat bagaimana aku sangat menyayangi Mak. Keberadaan Mak terutama setelah meninggalnya Ayah merupakan salah satu alasan aku untuk bisa terus bertahan dan berjuang menghadapi segala rintangan hidup. Karena aku juga ingin bisa menjadi anak kebanggaan Mak, bukan hanya Aak yang sudah sangat sering dipuji Mak.

Terus-terang hubunganku dengan Mak tidak terlalu dekat. Aku lebih dekat dengan Ayah. Sepertinya Ayah lebih banyak bisa memahami diriku daripada Mak. Tapi Mak dengan naluri seorang ibunya mampu memberikan kehangatan, kasih sayang, dan teladan yang luar biasa untuk ku, terutama bila nantinya aku berkeluarga. Mak telah melakukan apa pun yang dia bisa untuk anak-anaknya dan aku yakin Mak akan terus melakukan itu kalau perlu hingga napas terakhirnya.

Apa yang tidak Mak berikan untukku? Di setiap langkahku ada doa Mak yang selalu menyertai. Mak memang tak pernah banyak bicara, tapi dari sorot matanya aku tahu walau pun tak setuju, Mak tetap akan selalu berdoa agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Aak dan aku bisa bersekolah tinggi, terpisah dari Ayah dan Mak dari SMP bukan karena mereka tak sayang. Namun Mak ingin kami sebagai anak-anak perempuannya suatu hari nanti bisa mandiri ketika keadaan memaksa kami untuk menjadi kepala keluarga. Mak dengan segala kesedihan dan kepahitan yang dialaminya selama menjalani kehidupan rumah tangga, mampu menerima semua kekurangan pasangannya dan menyimpannya dengan rapi. Hanya karena tak ingin anak-anaknya kehilangan respek pada Ayahnya.

Berapa pun umur aku dan Aak, buat Mak kami tetap adalah anak-anaknya yang selalu dilimpahkan dengan perhatian, yang kadang-kadang membuat kami menjadi jengah karena merasa terlalu dilayani. Mak akan bangun pagi hari memastikan aku pergi kerja dengan perbekalan yang cukup. Hal yang sama Mak lakukan saat aku masih SD atau SMP. Padahal aku sudah berkali-kali mengatakan pada Mak untuk tak usah repot, karena aku bisa menyiapkannya sendiri kalau memang ingin membawa sesuatu dari rumah. Tapi Mak tetap Mak. Semuanya tetap dia lakukan.

Mak pula lah yang memberikan aku kesempatan untuk pergi haji. Tak akan pernah bisa hilang dari ingatanku hari ini. Waktu itu kami sekeluarga sedang makan siang dalam rangka memperingati hari ulang tahunku. Kebetulan Makcu, adik Mak dari Bandung datang ke Jakarta. Makcu dan Om rencananya tahun depan akan berangkat haji. Kedatangan mereka ke Jakarta juga dalam rangka untuk mengurus segala persiapan awal. Tiba-tiba Mak memberikan penawaran yang membuatku merasa sangat kecil. Mak memberikan tawaran untuk ku pergi haji bersama Makcu dan suaminya dengan uang depositonya. Bayangkan! Aku saat itu sudah bekerja bertahun-tahun tapi tak pernah bisa menabung sebanyak itu. Betapa malunya aku! Seharusnya aku sebagai anak yang menghajikan orang tuanya, sekarang keadaan malah berbalik. Alasan Mak sederhana, mumpung masih ada mahram untuk pergi. Beribu kali Alhamdulillah aku ucapkan. Mak sekali lagi mengejutkan aku dalam kediamannya.

Itulah sebabnya aku menjadi sedih sekali ketika Mak mulai mengungkit-ungkit lagi masalah status kesendirianku. Betapa aku ingin mengabulkan keinginan Mak untuk bisa melihat aku menikah sebelum dia pergi. Namun, aku tak punya kuasa karena semuanya ada di tangan Yang Di Atas. Aku hanya bisa berharap semoga Mak bisa dan ada di sampingku saat aku menikah nantinya. Rasanya kalau bisa dan boleh saat itu aku mengemis pada ALLAH agar bisa mengabulkan permintaan Mak itu, akan aku lakukan.

Mak dan beribu bahkan berjuta Ibu lainnya di seluruh dunia, pasti akan melakukan hal yang sama untuk anak-anaknya. Dan hebatnya lagi, tak pernah ada pamrih dari mereka minta balas jasa. Bayangkan kalau mereka minta bayaran karena telah mengasuh, membesarkan, dan mendidik kita! Tak akan pernah ada nilai yang cukup untuk menggantikannya. Mereka telah mempertaruhkan nyawa saat melahirkan kita. Tak sedikit dari mereka yang dengan sangat ikhlas melepaskan mimpi-mimpi mereka untuk merawat anak-anaknya. Berapa banyak pengorbanan materi yang mereka singkirkan demi untuk membelikan sepotong baju baru atau bahkan menyekolahkan kita. Berapa panjang malam-malam melelahkan saat harus menjaga anak-anaknya sakit dan terus merengek sepanjang malam. Subhanallah... wanita yang tampaknya lemah itu diciptakan ALLAH penuh dengan kekuatan.

Mak, tak akan pernah cukup rasa terima kasih yang ingin aku sampaikan. Apa yang aku lakukan sekarang untuk bisa menjaga Mak seperti yang dulu Ayah lakukan, tak sebanding dengan semua yang pernah Mak lakukan untuk menjagaku.
Terima kasih, Mak. Aku sayang dan tak akan pernah lupa akan semua cinta, kasih sayang, dan semua yang Mak berikan. Maafkan aku jika hingga hari ini aku belum bisa menjadi anak yang Mak bisa banggakan. Maafkan aku jika selalu merepotkan dan membuat Mak tidak tenang. Semoga suatu hari nanti Mak bisa mengatakan bahwa aku juga adalah kebanggaannya. Maafkan Nita, Mak.

Hanya doa yang bisa ku panjatkan... Semoga ALLAH SWT membalas semua kasih sayang dan cinta Mak kepada kami. Semoga ALLAH memberikan kesempatan bagi Mak untuk bisa melihat aku menikah. Semoga ALLAH tak membiarkan lagi Mak menangis dalam kesedihan yang hanya bisa Mak bagi dengan-NYA. Semoga ALLAH mudahkan segalanya diusia Mak yang sudah cukup tinggi. Amin. Amin. Amin.

Barangkali lagu anak-anak dibawah ini bisa mengingatkan kita kembali pada masa kecil dan kasih sayang Ibu yang tak pernah redup. Marilah kita lebih sering mengatakan cinta kepada Ibu agar mereka tahu betapa besar kasih sayang kita kepada mereka.

Di Matamu Mama
Cipt. AT. Mahmud

Dimatamu mama ada bintang
Gemerlapanbila ku pandang.

Dimatamu mama ada bintang
Yang tak pernah pudar bersinar.

Dimatamu mama ada kasih sayang
Yang slalu bersinar terang.

Dimatamu mama ada kasih sayang
Yang slalu bersinar terang

1 komentar:

W mengatakan...

jadi kangen mami....
mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!