Kamis, 27 November 2008

Tidak Cukup Baik

Ketika aku terlibat kembali perasaan jatuh cinta pada seseorang dan akhirnya ternyata berujung dengan sebuah penolakan telak (hiks!), satu pertanyaan langsung timbul dalam hatiku. Apakah yang menyebabkan laki-laki ini (yang sekali lagi) menolakku? Apakah aku tidak cukup baik untuk dirinyakah? Peristiwa penolakan kali ini memang memberikan banyak sekali pelajaran berharga untukku. Membuat aku menjadi merasa wajib merenungkan kembali semua hal yang sudah terjadi. Apalagi untuk kali ini peristiwa yang sama terjadi lagi. Pertanyaan apakah aku tak cukup baik untuk dirinya, sepertinya layak untuk aku tanyakan pada diriku sendiri.

Seringkali kita sering mendengar pertanyaan bahwa orang baik berhak mendapatkan juga yang terbaik. Demikian juga sebaliknya. Makanya kalau mau mencari jodoh yang soleh, bergaullah di majelis taklim atau sering-sering meramaikan mesjid.
Kalau dipikirkan lagi, pernyataan itu tidak ada yang salah. Sangat betul bahkan menurutku. Setiap perbuatan akan mendapatkan ganjaran atau balasannya sesuai dengan yang telah kita lakukan. Oleh sebab itulah aku berusaha membuat semacam introspeksi kecil karena sepertinya memang ada yang kurang dari diriku.

Jika kita ingin melamar suatu pekerjaan, pasti kita akan berjuang sekuat tenaga untuk membuat Daftar Riwayat Hidup yang sebagus mungkin. Penuh dengan pencapaian yang telah berhasil kita raih. Sedapat mungkin hal-hal yang merugikan akan kita kurangi. Namanya juga sarana untuk menjual kemampuan kita. Untuk membuat orang yang mau mempekerjakan kita menjadi terpesona, terpincut, sampai akhirnya memutuskan untuk menjadikan kita sebagai karyawan. Itu hanya untuk urusan duniawi. Apalagi untuk urusan yang akhirat.

Buat aku, sebuah pernikahan tidak hanya berlangsung di dunia. Hal ini juga berhubungan dengan akhirat, karena nantinya kita akan diminta pertanggungjawaban oleh NYA. Tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah, sebagai istri dan ibu, bahkan sebagai anak. Dalam proses mencari jodoh yang benar secara Islam tidak mengenal adanya pacaran. Hanya ada proses pengenalan melalui ta'aruf. Peristiwa ini ditandai dengan menukar informasi diri pribadi, mungkin seperti Daftar Riwayat Hidup tapi pastinya lebih lengkap lagi.

Aku mencoba membuat Daftar Riwayat Hidup ku versi ini. Belum apa-apa, aku sudah malu sendiri. Malu karena belum apa-apa sudah terlihat jelas mengapa dia memilih wanita itu bukan aku. Latar pendidikan wanita pilihannya adalah Sekolah Tinggi Ilmu Agama, jurusan Tafsir Hadist. Subhanallah... sementara aku??? Lulusan Ilmu Jurnalistik. Tidak ada sedikit pun berhubungan dengan agama. Memang, aku diajarkan untuk membuat berita yang benar dan tidak memihak. Tetapi kebenaran manusia itu sampai di manakah?

Kedua, urusan sholat yang jadi tiang agama. Pastinya wanita tadi sholatnya bagus, dalam artinya tepat waktu, bacaannya baik, sering sholat sunnah, mengerjakan sholat malam. Aku??? Sholat sering kali menjelang malaikat menutup pintu doa, karena sementar lagi adzan berkumandang lagi. Alasannya??? Apalagi kalau bukan banyak kerjaan. Padahal sebetulnya apalah susahnya meninggalkan kerjaan barang 5-10 menit saja. Sholat sunnah kalo lagi ingat... dan biasanya hanya waktu subuh. Apalagi sholat malam. Sudah diniatkan... seringkali niat tinggal niat. Alarm dibunyikan untuk dimatikan lagi. Bagaimana mau bangun kalau mulai tidurnya saja baru jam satu atau dua pagi??? Jelas lah... bangun jam 3 setengah mati.

Itu urusan sholat. Lain lagi masalah mengaji atau membaca Al Qur'an. Pastinya sebagai lulusan ilmu tafsir, wanita ini bisa membaca Al Qur'an dengan baik, lengkap dengan tawujidnya. Dia pasti sering membuka lembar-lembar Al Qur'an, bahkan mungkin bisa memahami artinya dengan baik. Bagaimana dengan aku??? Dari dulu.... niatnya, sekali lagi niatnya... ingin membaca Al Qur'an setiap hari setelah sholat subuh. Dan itu pun tinggal sebatas niat. Aduuuuh.... jadi malu sendiri!

Kemudian, karena kuliahnya mengenai tafsir hadist... pastinya dia jauh lebih paham banyak soal hadist. Sementara aku hanya tahu sedikit dan tetap berusaha mencari hadist mana yang bisa dipercaya kajiannya. Masih banyak bolongnya.

Dan faktor terakhir... yang tak kalah penting. Faktor usia. Dari segi ilmu kedokteran dan biologi, usia wanita pilihannya adalah golongan usia produksi. Artinya lebih besar kemungkinannya wanita ini bisa memberikan keturunanan dibandingkan dengan aku, yang sudah tinggi usianya. Walau pun aku selalu berdoa semoga aku masih bisa diberi kesempatan untuk mempunyai anak, namun aku harus siap dengan kemungkinan terburuk.

Wah, kalau melihat faktor-faktor di atas, sudah selayaknya aku mawas diri. Tak perlu lagi mengajukan pertanyaan apakah aku tak cukup baik untuk dirinya? Rapor ku banyak sekali angka merahnya. Semuanya sudah jelas menjawab pertanyaan ini.

Apa yang aku tuliskan ini bukan berarti aku merendahkan diriku sendiri. Bukan! Justru ini adalah cambuk buat aku. Kalau aku ingin naik kelas dengan baik, masih banyak nilai yang harus aku perbaiki. Dengan sisa usia yang aku tak pernah tahu berapa lama, sepertinya aku harus bekerja ekstra keras. Agar bila nanti waktunya tiba, aku bisa masuk dalam golongan hamba ALLAH yang beruntuhg. Tulisan ini sebenarnya menjadi motivasi buatku untuk tidak sekedar niat, tapi harus segera mewujudkan niat itu dalam tindakan nyata.

ALLAH sayang pada ku! Aku ditegurnya lewat jalan yang lembut. ALLAH hanya mengenalkan aku dengan pria ini. Persahabatan yang baru terjalin singkat ini telah banyak mengajarkan hal-hal positif buatku. Saat keimananku sedang berada pada titik dibawah, ALLAh angkat kembali dengan cara yang sakitnya hanya sebentar. Memang, aku perlu tenaga lebih untuk bisa memahami dan kemudian memaknai segala sakitnya hati ini dengan cara pandang yang positif.

Karena itulah aku hanya bisa bersyukur karena ALLAH telah mempertemukan aku dengan pria ini, seorang efaka.
Saat ini aku hanya bisa berdoa, semoga dia bisa segera mewujudkan keinginannya untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawardah, dan warahmah dengan wanita pilihannya itu. Efaka adalah manusia yang baik dan dia berhak mendapatkan yang terbaik juga. Untukku sendiri???? Aku percaya ALLAH juga telah menyiapkan yang terbaik juga.

Ayo Nita... kamu pasti bisa mewujudkan semua niat baik itu agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat.

You're strong, tough, happy, and healthy!!!! Keep fighting and trying harder!!!


Catatan kecil sebagai terima kasihku untuk seorang efaka, karena senantiasa mengingatkanku untuk kembali kepadaNYA.
May GOD bless u.

2 komentar:

W mengatakan...

leo lu gak kepilih bukan krn lo kalah, tp krn minatnya yg cenderung ke arah itu aja. there's nothing wrong with you, don't be too hard on yourself.
ok?

catwoman mengatakan...

Dearest Wendy.
I'm not being too hard with myself. As I wrote on this posting, this is going to be my homework to be a better person. In all aspect, especially to improve my relationship with GOD. It a must! Nothing else!
Don't worry honey... I know GOD will give me the best man one day.Thanks honey... I luv U.