Senin, 07 Juli 2008

Tergantung Tujuan

Ada beberapa kejadian di minggu lalu yang membuat aku merasa bahwa penting sekali menentukan tujuan kita melakukan sesuatu. Padahal tadinya aku merasa kita bisa melakukan apa saja tanpa perlu repot-repot menentukan tujuannya dulu. Ternyata hal itu bisa berpengaruh pada akhirannya. 

Singkat cerita, seorang rekan dosen menelponku suatu malam. Setelah serius membicarakan masalah soal ujian yang harus diulang, mulailah dia masuk ke dalam sesi curhat colongan. Dia menceritakan apa yang membawa dia menjadi dosen. Sebelum dia mulai bercerita, aku pikir dia mengajar karena uang. Ternyata dugaanku salah. Dia mengajar bukan mengejar honor sebagai pengajar, tapi ada sesuatu yang sangat jauh hubungannya dengan pendidikan. Saat dia bercerita, aku berkomentar dalam hati. Pantas saja dia agak susah untuk diajak bicara soal materi perkuliahan. Tujuannya beda. 

Aku ingin menjadi pengajar karena ingin berbagi pengalaman dengan anak-anak yang bercita-cita menjadi orang-orang iklan. Aku ingin mereka bisa menjadi tenaga yang handal bukan sekedar pandai membaca buku. Aku merasakan bagaimana tak bergunanya belajar selama 4-5 tahun, bahkan ada yang sampai 7 tahun di PT tapi tak bisa apa-apa saat terjun di dunia kerja. 
Dengan tujuan itu, uang menjadi urusan kedua. Mungkin akan berbeda, jika tujuan utamanya adalah demi uang. 

Nah, untuk urusan yang terakhir ini pulalah aku sekarang bekerja. Hanya demi mengumpulkan uang untuk bisa sekolah lagi, aku menceburkan diri lagi ke dunia periklanan. Walaupun rasanya sudah tak sanggup untuk berlama-lama di kantor, bersaing dengan anak-anak yang masih punya 100 nyawa setelah diterpa lembur, dan terutama sudah kehilangan semangat untuk berdebat dengan klien yang suka sok tahu. 

Urusan UUD (Uang, Uang, dan Duit) inilah yang menyebabkan aku bekerja sudah kehilangan "passion". Mungkin akan lain jadinya, kalau aku bekerja kembali di periklanan karena memang aku bangga dan cinta jadi orang kreatif di periklanan. Aku pasti akan rela untuk berdebat dengan klien, tak peduli untuk diskusi cari ide sampai pagi, dan yang jelas masih punya tenaga untuk lembur sampai subuh. 

Itu yang aku rasakan saat mengajar. Walaupun pernah aku baru pulang dari Bandung bersama teman-teman kantor hingga jam 4 pagi, namun jam 8 pagi aku sudah berdiri di depan kelas. Siap membagi ilmu kepada para mahasiswa hingga pukul 4 sore! Meskipun otaknya sudah sedikit melemah (maklum tak tidur sedikit pun), aku masih bisa membahas mengenai bagaimana membuat iklan radio. Yah, barangkali komitmen dan rasa tanggungjawab juga punya andil di sini. 

Namun aku percaya bahwa apa pun yang kita lakukan memang merupakan refleksi dari tujuan pertama kali waktu kita berniat untuk melakukan hal tersebut. Dari sinilah aku mendapat pelajaran berharga. Hati-hati dengan tujuan pertama sebelum melakukan sesuatu. Karena hal itulah yang akan membawa langkah kita untuk melakukan hal selanjutnya. 

Satu hal lagi yang aku percaya, niat yang baik dan dilakukan dengan tulus dan ikhlas, akan bisa berjalan dengan lancar. 

Tidak ada komentar: