Menurut agama Islam, menikah itu adalah ibadah, menggenapkan separuh din, mengikuti sunnah nabi. Karenanya, dalam Islam, menikah harus disegerakan bila sudah mampu dan jangan ditunda-tunda agar tidak menimbulkan fitnah. Begitu yang selalu dipesankan oleh orang-orang tua. Tapi, bagaimana jika jodoh yang ditunggu belum juga muncul?
Minggu lalu, aku ke Bandung dalam rangka pernikahan salah seorang keponakanku. Akhir-akhir ini pernikahan keluarga yang aku datangi bukan lagi tingkatan tante atau sepupu tapi sudah ke tingkat para keponakan. Bahkan beberapa dari mereka sudah memberikan aku cucu.
Dulu, ada beberapa masa dimana aku malas untuk datang ke pernikahan keluarga karena tak tahan dengan berondongan pertanyaan dan pernyataan klise seperti: kapan nyusul, nih? Ditunggu lho undangannya. Jangan terlalu asyik kerja, nanti lupa cari jodoh... dan lain-lain dan sebagainya. Telinga rasanya gatal! Rasanya ingin sekali teriak minta orang-orang itu diam dan bilang kalau itu bukan urusan mereka! Namun, sejalan dengan berlalunya waktu, aku tak pernah peduli dengan komentar itu lagi. Cara paling ampuh hanyalah diam dan berikan senyuman paling manis.
Bagaimana orang-orang itu bisa berkomentar sementara mereka sebetulnya tak pernah tahu apa yang sebetulnya terjadi? Bagaimana mungkin mereka hanya menilai dari kulit luar saja? Beberapa orang saudaraku menilai, ketidakberuntungan aku menemukan jodoh karena terlalu asyik berkarir. Kerja... kerja... dan kerja terus! Dari pagi ketemu pagi lagi! Cari uang terus, sampai lupa cari jodoh! Ada lagi yang menilai, kalau aku terlalu pemilih. Bahkan ibuku sendiri pernah menilai kalau aku terlalu jual mahal. Milih-milih padahal dirinya sendiri modalnya cuma pas-pasan. Maksudnya wajahnya pas, pintarnya pas, hartanya pas... pokoknya serba pas alias rata-rata seperti orang kebanyakan saja. Harusnya dengan modal seperti itu kita jangan terlalu pemilih. Tapi, tahukah mereka sebetulnya apa yang terjadi?
Ada beberapa alasan jika seseorang belum menikah. Aku tidak memakai istilah tidak menikah karena aku yakin, sebenarnya tiap orang punya keinginan untuk menikah, mempunyai pasangan. Mulai dari masih ingin melanjutkan sekolah, membina karir, belum mampu secara keuangan, hingga alasan yang tak bisa dijabarkan, yaitu: belum dipertemukan ALLAH dengan jodoh sebenarnya.
Aku termasuk orang yang percaya akan hal terakhir ini. Aku pernah jatuh cinta -sering bahkan, namun belum pernah ada yang sukses hingga mengajak menikah. Saat ada yang menunjukkan sinyal-sinyal untuk menikah, aku tak pernah merasa ada rasa dengan orang itu. Ketika akhirnya aku merasa yakin dengan seseorang, manusia pilihanku itu malah menjatuhkan cintanya pada orang lain. Mencari kemana-mana sudah, berdoa juga sudah dilakukan, tapi jodoh itu tak kunjung sampai juga. Ada kalanya hati merasa lelah, tapi lebih sering bersemangat jika melihat sosok laki-laki tampan dan beribadah. Namun, kadangkala tak bisa dimungkiri, hati mulai merasa tak lagi peduli.
Kini, aku dengan senang hati datang ke pernikahan keluarga. Buatku ini adalah salah satu ajang untuk menjadi jodoh. Siapa tahu ada laki-laki yang juga sedang mencari calon istri di acara tersebut. Dijodohkan? Boleh-boleh saja, selama keputusan akhir tetap ditangan aku. Sekarang, kalau ada yang bertanya kapan nikah, dengan tenang aku menjawab tolong doanya saja. Kalau ada kenalan, boleh dikenalkan. Siapa tahu bisa berjodoh. Kalau pun tidak, kita bisa menjalin silahturahim dengan lebih banyak orang. Menambah amalan.
Ini bukan alasan atau penghiburan buatku, tapi aku percaya ALLAH punya rencana lain. ALLAH sudah menyediakan jodoh terbaik buatku. Hanya saja waktunya belum tiba. Pesanku untuk semua orang yang belum bertemu dengan jodohnya, tetaplah semangat! Dan buat yang telah berjodoh, peliharalah jodoh kalian dengan sebaik-baiknya. Bersyukurlah karena kalian telah berhasil dipertemukan ALLAH dengan jodoh terbaik selama masih di dunia.
* Untuk seseorang yang pernah bertahun-tahun mengisi hati ini.

2 komentar:
Iya Nit, kalau saatnya sudah tepat... dia pasti datang.
sebagai salah satu korban telnik alias telat nikah (heheh..) gw ngangguk2 baca cerita lo. emang gitu ya, selalu diberondong dengan pertanyaan yg sama. tp jangan salah, udah nikah pun, akan ada berondongan lainnya; "mana momongannya? kapan isi tuh perut?" dll deh.
pesan gw, jangan terlalu dipikirin. kayanya orang2 yg nanya juga itu sekedar ucapan doang, kaya misalnya, "apa kabar lo?" ato "kamana wae lo?" gitu...
percaya bahwa jodoh dipertemukan oleh yg Di Atas. keputusan menjadikan dia jodoh apa bukan, nah itu baru di tangan kita. inget kata Pak Puspo dong, "Jodoh harus dimaui". Ah.. jadi keinget Pak Puspo deh.
Posting Komentar