Ini adalah tulisan pertama ku di tahun 2009. Sebetulnya banyak hal yang sangat ingin aku ceritakan di sini, namun kerjaan yang semakin hari semakin menggila, membuatku tak pernah punya waktu untuk menuliskannya. Hanya saja, hari ini aku tak mampu untuk mengelak lagi keinginan untuk mencurahkan isi hatiku.
Tahun ini adalah tahun yang panjang. Dalam artian, semakin sering aku pulang malam karena terpaan kerjaan yang sepertinya tak kunjung usai. Akibatnya, banyak kelas ku yang tertinggal. Seringkali aku tak bisa memusatkan konsentrasi saat mengajar di kelas, terutama kelas pagi, karena aku baru saja tiba di rumah dini hari. Belum lagi tiba-tiba pangilan tugas untuk shooting di Yogja. Bisa dibayangkan akibatnya. Satuan acara pengajaran yang sudah aku buat tak bisa terkejar, tugas anak-anak terbengkalai, dan aku dilanda kebosanan luar biasa terhadap pekerjaan di kantor.
Semester ini memberikanku pelajaran yang sangat berharga. Jangan menjadi orang yang serakah! Keserakahan untuk bisa memberikan ilmu lebih banyak kepada mahasiswa, membuatku tak bisa mengukur lagi kemampuan tenaga serta waktu yang ada. Aku bersikeras untuk memegang semua kelas yang dipercayakan pada ku. Padahal pekerjaan di kantor sedang berada di bulan-bulan penuh promosi. Akhirnya reputasiku sebagai dosen yang tangguh, disiplin, menyenangkan, dan penuh pengertian tak lagi datang. Terutama di Paramadina yang sangat disiplin. Belum usai masalah ini selesai, tiba-tiba aku merasa keberadaanku di kantor mulai secara terselubung dialihkan kepada anak emas baru. Tak ada yang beres dan menyenangkan.
Keadaan inilah yang membuatku sadar bahwa aku harus menyerah. Bukan karena aku tak mampu, tapi jika aku ingin hasil yang maksimal, aku tak boleh serakah. Semua sudah ada bagiannya. Waktunya bagiku untuk memilih. Antara pekerjaanku yang sekarang, dengan kondisi gaji yang lumayan namun tak ada penghargaan yang tulus. Atau memilih pekerjaan baru sebagai dosen tetap dengan gaji yang seadanya tapi ada kepuasan melihat anak-anak itu bisa berhasil.
Pilihan kedua sepertinya jauh lebih menarik. Hanya saja ada kendala untuk mencapainya. Aku belum punya gelar Master. Aku masih harus kembali ke bangku kuliah. Kendala utamanya adalah besarnya biaya untuk kuliah tersebut. Walaupun aku bisa memperoleh penghasilan dari mengajar, tapi jumlah honor yang sekarang aku terima tak akan cukup untuk membayar uang kuliah, bahkan untuk hidup sehari-hariku masih kurang. Namun, aku tahu kemampuan diriku. Aku tak akan mampu untuk kuliah dan bekerja di tempat sekarang ini. Mencari tempat baru???
Mungkin inilah pilihan lain yang bisa ku lirik. Pertanyaannya sekarang adalah: dimana??? sebagai apa??? masih lakukah aku dipasaran dunia iklan yang serba cepat dan keras ini??? Inilah persimpangan jalan yang sebenarnya telah memenuhi kepalaku sejak masuk tahun 2009. Hingga hari ini aku masih belum bisa menjatuhkan pilihan. Bagaikan buah simalakama, dimakan mati ibu, tak dimakan ayah mati.
Aku tahu sebagai seorang muslim, aku tak boleh menyerah. Aku hanya ingin diperbolehkan untuk beranda-andai... satu kali saja.
Andai ku dapat...
Akan ku minta pagi datang lebih cepat
Saat rasa kantuk itu tak juga datang.
Akan ku minta malam datang menghampiri lebih awal
Agar rasa kantuk ini bisa segera terobati.
Andai ku dapat...
Akan ku kembalikan kemarin pada hari ini
Agar tak perlu khawatir akan hari esok.
Andai ku dapat...
Aku ingin tetap bersamanya
Agar aku punya tempat bercerita.
Begitu banyak andai yang ku inginkan...
Andai ku dapat memiliki semuanya...
Ah... begitu indah kata Andai.
Namun, aku tahu...
Aku tak dapat berandai-andai
Agar aku bisa mewujudkan semuanya.
Bantu aku ya, Allah... agar bisa kuat dan cermat untuk membuat pilihan. Amin.
Jumat, 10 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
Jangan lupa doa Nit. Tuhan akan bantu Nita untuk buat keputusan yang tepat... (michelle)
Posting Komentar